Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Bolehkah Ibadah Haji Diwakilkan?

0

Banyak pertanyaan yang timbul mengenai apakah boleh pergi haji itu diwakilkan? Jika boleh apa – apa saja syaratnya dan mengapa diperbolehkan?

BACA JUGA: Inilah 8 Keutamaan Berhaji

Adapun yang boleh diwakilkan dalam pergi Haji hanyalah orang – orang yang sudah meninggal dunia dan boleh diwakilkan oleh anaknya terutama. Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW:

Wanita tersebut mempunyai ayah yang berkewajiban menuaikan ibadah Haji namun tidak dapat menuaikannya karena sudah tua dan uzur. Sebelum sempat menuaikan kewajiban tersebut ayahnya meninggal dunia, wanita tersebut bertanya kepada Rasul: “Apakah Dia (ayahnya) boleh Aku menghajikannya?”

Rasullulah menjawab: “Boleh, dan hajikan-lah untuknya.”

Anak adalah bagian dari orangtuanya, dan bagian dari amalannya. Selain itu anak dianggap sebagai pelanjutnya setelah dia meninggal dunia. Sebagaimana Rasullulah SAW bersabda:

“Apabila anak Adam (Manusia) meninggal dunia maka putuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh mendoakan untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka anak yang shaleh adalah penyambung kehidupan orangtuanya dan penyambung keberadaannya. Karena itu anak dapat menghajikan orang tuanya. kalau mereka tidak bisa melaksanakannya sendiri maka boleh mewakilkannya kepada orang lain.

Wallahu a’lam bi al-shawab. []

SUMBER: Tanya jawab Asuhan H.M. Rahmatullah di Buletin Mimbar Jumat, No. 29, th. XXV, terbitan Dewan Akbar Indonesia



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline