Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Sedang Nifas, Bolehkah Potong Kuku dan Rambut?

0

Pertanyaan: Assalamu’alaikum, ustadz saya mau tanya, kalau abis melahirkan tapi belum 40 hari. Boleh tidak potong kuku dan rambut?

Jawaban: Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh

Bismillah. Jawaban kami kutip dari laman abufawaz. Hukum memotong kuku dan rambut bagi wanita yang sedang nifas dan haidh adalah BOLEH, karena tidak ada satu pun dalil syar’i baik dari ayat Al-Quran maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarangnya.

Yang dilarang bagi wanita yang sedang haid dan nifas adalah mengerjakan hal-hal berikut ini:

1. Sholat Wajib dan Sunnah.

2. Puasa Wajib dan Sunnah.

3. Thowaf.

4. Jima’ (berhubungan badan dengan suaminya).

Adapun bercumbu tanpa melakukan Jima’, maka hukumnya Boleh.

BACA JUGA: Yang Terlarang Selama Masa Nifas

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah diajukan sebuah pertanyaan dalam ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darb’ (Fatawa Az-Ziinah Wal Mar’ah/ soal nomor. 9):

“Saya mendengar bahwa menyisir rambut waktu haid tidak diperbolehkan, begitu juga (tidak diperbolehkan) memotong kuku dan mandi. Apakah hal ini dibenarkan atau tidak?

Maka beliau rahimahullah menjawab:

“Ini tidak benar. Wanita haid diperbolehkan memotong kuku dan menyisir rambutnya. Diperbolehkan pula baginya mandi karena junub. Seperti ketika dia bermimpi “basah” sementara dia dalam kondisi haid, maka hendaknya dia mandi janabat. Atau dia bercumbu dengan suaminya tanpa jima’ (bersetubuh) sampai mengeluarkan air mani, maka hendaknya dia mandi janabat.

BACA JUGA: Walau Sedang Nifas atau Haid, Jangan Lewatkan untuk Tetap Raih Pahala!

Sepengetahuan saya bahwa pendapat yang populer di kalangan sebagian wanita bahwa tidak boleh mandi, tidak boleh bersisir, tidak boleh menyentuh kepala dan tidak boleh memotong kukunya (ketika haid atau nifas, pent) adalah pendapat yang tidak ada landasan dasarnya dalam Syari’at Islam.”

Loading...

Dan tidak pernah diketahui adanya seorang ulama fiqih terkemuka dan terpercaya yang berpendapat makruhnya melakukan hal-hal tersebut. Akan tetapi pendapat yang melarang wanita haid melakukan hal-hal itu hanya disebutkan pada sebagian kitab ahli bid’ah dari golongan yang menyelisihi Ahlus Sunnah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab ‘Syarhu An-Nail Wa Syifa’ul ‘Aliil, (I/347) karangan Muhammad bin Yusuf Al-Ibadhii. Wallahu’alam .

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga mudah dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

 

SUMBER: ABUFAWAZ



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline