Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jangan “Datangi” Istri yang Sedang Haid

0

Diantara kesempurnaan Islam adalah, adanya aturan dan hukum-hukum bagi wanita yang sedang haid.

Allah ﷻ berfirman

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid.Katakanlah,’Haid itu adalah suatu kotoran’.Oleh karena itu hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita di waktu haid,dan janganlah kamu mendekati mereka,sampai mereka suci.Apabila mereka telah suci,maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah ﷻ kepadamu” (QS.  A-Baqarah: 222)

Allah ﷻ mengabarkan tentang pertanyaan para sahabat mengenai haid. Apakah ketika sedang haid, kondisinya sama seperti sebelum ia haid? Ataukah haruskah dijauhi secara mutlak sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi?

Allah ﷻ menjelaskan bahwa haid adalah kotoran. Tentu merupakan suatu hikmah Allah ﷻ melarang seorang suami menggauli istrinya ketika haid. Karena itu Allah ﷻ berfirman:

 فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ

”Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid,”

artinya, menjauhi tempat keluarnya haid, yaitu jangan melakukan jima’ di kemaluan. Perbuatan ini hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).

Perintah untuk ”menjauhi tempat haid” menunjukkan bahwa bercumbu dengan istri yang haid, menyentuhnya tanpa berjima’ pada kemaluannya, hukumnya diperbolehkan.

Syarat Halal Jima’ Pasca Haid

Syarat kehalalan jima’ setelah haid ada dua;

1.darah haid telah berhenti,

2. mandi suci dari haid (mandi besar).

Allah  ﷻ memberikan batasan,

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ

Loading...

”Dan janganlah kamu mendekati istrimu, sebelum mereka suci,”

Batasan waktu menjauhi dan tidak mendekati istri yang sedang haid adalah “sampai mereka suci” artinya, darah haid telah berhenti.

Hukum Mencampuri Istri Yang Sedang Haid

Menggauli wanita haid pada kemaluannya merupakan perbuatan dosa yang terlarang berdasar kesepakatan ulama. [Lihat Al-Muhalla(II /162), Majmu’ Al Fatawa(XXI/624),dan Tafsir Ath –Taabari(IV/378)]

Imam an Nawawi  rahimahullah (dalam kitab Syarh  Muslim III:204) mengatakan :

“Andaikata seorang muslim meyakini akan halalnya jima’ dengan perempuaan yang sedang haid melalui kemaluannya, ia menjadi kafir, murtad. Kalau ia melakukannya tanpa berkeyakinan halal, misalnya dia melakukannya  karena lupa, atau karena tidak mengetahui keluarnya darah haid atau tidak tahu, bahwa hal tersebut haram, atau karena dia dipaksa oleh pihak lain, maka itu tidak berdosa dan tidak pula wajib membayar kaffarat. Namun, jika dia sedang haid dan tahu bahwa hukumnya haram dengan penuh kesadaran, maka berarti dia telah melakukan dosa besar sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Syafi’i rahumahullah, bahwa perbuatannya adalah dosa besar, dan ia wajib bertaubat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al Fataawa ( XXI / 624),

“Menggauli istri yang sedang nifas sama hukumnya dengan menggauli wanita haid, hukumnya haram berdasar kesepakatan ulama.”

Apakah Wajib Membayar Kaffarat?

BACA JUGA: Sudahkah Anda Mengetahui Adab dan Etika Berjima?

Tentang Kewajiban membayar kaffarat  untuk suami yang menggauli istrinya yang sedang haid, ada dua pendapat,

1. Menurut Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al Khalafi dalam kitab Al Wajiz , wajib hukumnya membayar kaffarat, karena ada hadis Ibnu Abbas radhiyallallahu ‘anhuma,

أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَأْتِي امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ

“Rasulullah ﷺ menyuruh orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan haid untuk bersedekah dengan satu dinar atau setengahnya.” (HR. Ahmad no. 2015 dan Abu Daud no. 230)

Dari Nabi ﷺ tentang seorang suami yang mencampuri isterinya di waktu haid, Rasulullah ﷺ

bersabda, ”Dia harus bersedekah satu dinar atau setengah dinar.” [Shahih, Ibnu Majah (no.523), ’Aunul Ma’bud (I: 445 no. 261), Nasa’i  (I:153), Ibnu Majah (I:210 no.640)]

Menentukan  pilihan satu dinar atau setengah dinar di kembalikan kepada perbedaan antara jima’ di awal haid atau akhir haid waktu haid. Hal ini mengacu kepada riwayat  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara mauquf, dia berkata, ”Jika dia bercampur dengan istrinya di awal keluarnya darah maka hendaklah bersedekah satu dinar,dan jika di akhir keluarnya darah, maka setengah dinar.” (Shahih mauquf. Abu Dawud no.238 dan ‘Aunul Ma’bud I: 249 no.262 )

2. Jumhur ulama berpendapat, tidak wajib membayar kaffarat – berbeda dengan pendapat Imam Ahmad yang mewajibkan membayar kaffarat -.

Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim dalam buku Ensiklopedi Fiqih Wanitahlm 114 mengatakan, “Yang benar adalah tidak ada kewajiban membayar kaffarat baginya karena lemahnya dalil yang mewajibkan, Wallahu a’lam.”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita di atas dien yang lurus.

 

SUMBER: MUSLIMAHORID



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline