Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Umar bin Khattab: Apakah Engkau Mengetahui Orang Itu?

0

“Apakah engkau mengetahui orang ini?” tanya amirul mu’minin, Umar bin Khattab.

“Ya,” jawab si lelaki.

“Apakah engkau tetangganya yang mengetahui keluar dan masuknya orang itu?”

“Bukan.”

“Apakah engkau pernah menemaninya dalam perjalanan, sehingga engkau mengetahui kemuliaan akhlaknya?”

“Tidak.”

“Apakah engkau telah menjadikannya pegawai dengan diberi dinar dan dirham, sehingga kesalehan seseorang dapat diketahui?”

“Tidak.”

Umar lantas meninggikan suara, “Mungkin engkau pernah melihatnya berdiri di masjid, sesekali mengangkat kepalanya dan sesekali merendahkannya?”

“Ya,” jawab si lelaki

“Pergilah, sesungguhnya engkau tak mengenal orang ini.”

Dialog ini terjadi antara Umar bin Khattab dan seorang lelaki. Umar hendak meminta persaksian tentang seseorang. Lelaki ini mengajukan diri, memberi informasi tentang orang tersebut.

Umar menolaknya. Pertimbangan yang benar untuk mengetahui hakikat kebenaran seseorang. Sehingga mampu menguak tabir kebenaran, agama, dan akhlaknya.

Sementara di zaman ini. Begitu mudahnya kita menemui orang, yang sangat suka dan mudah pula memberi komentar. Tentang sesuatu yang tidak dikuasai atau tentang seseorang yang pernah ia jumpai.

Hanya karena melihat seseorang melakukan sesuatu sekali dua kali. Hanya karena mendengar seseorang mengatakan sesuatu sekali dua kali. Lalu merasa bebas mengomentari.

Mengomentari. Menilai. Menyimpulkan. Menghakimi. Melabeli. Menyebarkannya.

Loading...

Bagaimana dengan orang yang turut mendengarkannya? Menyetujuinya. Kembali menyebarkannya. Turut menyukai atau membenci.

Bayangkan, jika berita yang disebarkan itu ibarat kapas. Yang disuir kecil-kecil. Lalu ditiup angin. Setelah tersebar berserakan. Bisakah ia dikumpulkan kembali dengan mudah?

Ah, orang yang seperti itu, bisa jadi saya. Saya yang merasa baik. Merasa benar. Merasa berhak menilai orang. Merasa merdeka mengomentari banyak hal.

Iya, bisa jadi itu saya. Yang hanya mampu bersikap adil pada apa atau siapa yang saya suka, walaupun ia salah.

Mengabaikan nilai kebenaran dari apa dan siapa yang saya tidak suka, walaupun ia memang benar adanya.

Allahummaghfirlii… []

Sumber: *Dialog di atas dinukil dari ‘Tarbiyatul aulad’, karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline