Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Tulislah Semua Keburukan Ibumu

0

Ada seorang anak yang datang pada seorang ustadz, kemudian mengeluh atas perbuatan ibunya. Dia mengatakan,“Ibu saya itu orangnya kuno dan tidak berpendidikan. Akibatnya saya merasa teraniaya menjadi anak.”

Lalu dengan tenang Ustadz itu mengatakan, “Tulislah semua keburukan ibumu!”

Kemudian ditulislah keburukan-keburukan ibunya: ibuku orangnya pemarah, kurang perhatian, pelit suka mendendam dan sebagainya.

Setelah selesai, ustadz itupun kemudian berkata, “Sekarang tulis secara jujur apa jasa dan pengorbanan ibumu.”

Akhirnya anak itu termenung.

“Sewaktu di perut ibu sembilan bulan syta menghisap darahnya. Saat itu, sulit berdiri dan berjalan berat, bahkan berbaringpun sakit. Tiga bulan pertama mual dan muntah karena ada saya di perutnya. Ketika saya akan terlahir ke dunia, ibu meregang nyawa antara hidup dan mati.

“Meskipun bersimbah darah dan sakit tiada terperi, tapi ibu tetap rela dengan kehadiran saya. Setelah lahir, satu persatu jari saya dihitungnya dan dibelainya. Di tengah rasa sakit, beliau tiba-tiba tersenyum dengan lelehan air mata bahagia melihat saya terlahir. Dan, saat itu pula ibu menyangka akan lahir anak yang saleh yang memuliakannya.”

Ketika sang anak menulis terus pengorbanan ibunya, tak terasa berlinanglah airmatanya. Semakin sadar bahwa untaian pengorbanan ibunya sungguh tidak sebanding dengan kebaikan yang telah ia perbuat untuk memuliakan ibunya.

Bahkan jika tubuh kita dikupas tidak akan berbanding, tidak akan bisa menanding perih pahitnya penderitaan orang tua kita. []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline