Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Menghafal Quran Saat Usia 40 Tahun dan Menyelesaikannya dalam 5 Tahun

0

Seorang Profesor, guru besar dan kepala departemen, tentu Anda bisa bayangkan kesibukannya. Namun, di usianya yang sudah memasuki 40 tahun ia masih memiliki semangat untuk menghafal Alquran dan dapat menyelesaikannya dalam lima tahun, masya Allah.

Umumnya kita akan kagum dengan semangat anak-anak penghafal Quran dan telah dapat menghafal 30 juz di usia yang masih remaja. Tetapi lalu kita akan menggumam, wajar jika anak muda dapat menghafal Quran karena masih muda dan tidak disibukkan dengan pekerjaan.

Berbeda dengan Kudang Boro Seminar, seorang guru besar Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB yang justru mulai menghafal Quran di usia 40 tahun dan berhasil menyelesaikannya pada usia 45 tahun.

Mudah? Tentu tidak bahkan saat masuk kuliah ia tidak dapat menyelesaian tugas untuk menulis surat Al Fatihah. Jangankan menuliskan surat Al Fatihah di usianya saat itu huruf hijaiyah pun ia buta.

Namun karena tugas itu, Prof. Kudang biasa ia disapa justru menjadi semakin ingin belajar Quran. Targetnya saat itu tidak banyak hanya ingin dapat membaca Alquran. Sehingga ia mulai menyisihkan waktu mengeja huruf-huruf hijaiyah. Setiap ada waktu luang pun ia manfaatkan untuk belajar membaca Quran. Saat dalam perjalanan naik bus dari Jakarta – Bogor pun tak lepas ia terus belajar membaca Quran. Sehingga akhirnya usaha itu membuahkan hasil, meski tidak sempurna Kudang Boro Seminar akhirnya dapat membaca Alquran.

Tetapi interaksi dengan Quran sempat terhenti karena ia harus melanjutkan kuliah di Kanada.  Bahkan ia merasa semakin jauh karena tugas kuliah yang semakin menyita waktu. Belum lagi ia kerap depresi dan stress karena harus melanjutkan kuliah di bidang teknologi sementara ia adalah lulusan pertanian di IPB.

Bukan hanya masalah kuliah yang sering membuat Kudang stress, tetapi kultur yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab juga menjadi beban pikirannya. Ia kawatir dapat terbawa arus kehidupan yang bebas. Kebiasaannya menyelisik ayat-ayat Alquran juga semakin terkikis.

Namun selang beberapa tahun, tepatnya 4 tahun keberadaannya di Kanada, takdir mempertemukannya dengan mahasiswa berdarah Sudan, Yahya Faddallah Al-Hafidz. Brother Yahya ia biasa dipanggil. Dia seorang hafidz (hafal Al-Qur’an), teguh dan istiqomah. Brother Yahya sering melantunkan ayat-ayat suci Alquran, dan ketika berdialog bersama teman sejawat pun, ayat-ayat Allah sering kali mewarnai perkataannya. Dialah yang akhirnya mengajari Prof. Kudang untuk kembali membaca Alquran.

Sejak sering berinteraksi dengan brother Yahya, Prof. Kudang semakin kagum dengan keistimewaan Alquran. Setiap ada masalah atau tengah sakit ia akan membaca Alquran sebagai obat dan pelipur lara. Prof. Kudang mulai mentadaburi Alquran dengan apa yang ada di sekitarnya, ia pun memahami bahwa Alquran seperti operating system sebuah komputer yang dapat mengoperasikan komputer. Dan manusia membutuhkan Alquran sebagai petunjuk untuk dapat menjalankan hidup. Kemudian  keinginan untuk menghafal Quran pun muncul.

Tapi, lagi-lagi Allah menggariskan berbeda. keinginan untuk menghafal Alquran dan belajar pada brother Yahya tidak dapat terlaksana. Prof. Kudang harus kembali ke Indonesia karena masa kuliahnya habis.

Setelah kembali ke Indonesia Prof. Yahya disibukkan dengan pekerjaannya menjadi dosen di IPB. Tetapi keinginan untuk menghafal Alquran itu tak pernah padam. Qadarallahu Prof. Kudang bertemu dengan KH. Mohammad Mudzaffar Al-hafidh. Beliau seorang Hafidz Qira’ah Sab’ah (tujuh model bacaan Alquran) dan pimpinan pondok yang memiliki banyak santri dan semua santrinya adalah penghafal Alquran

Pada KH. Mohammad Mudzaffar-lah Prof. Kudang mengutarakan keinginannya untuk menghafal Quran dibawah bimbingannya. KH. Mohammad Mudzaffar menyetujui dengan syarat Prof. Kudang harus menghatamkan Alquran bin Nadhar (membaca dengan melihat mushaf) dihadapannya sampai tiga kali sebelum akhirnya aku diperbolehkan menghafal. Syarat itu diterima Prof. Kudang tanpa banyak bertanya karena menurutnya guru tidak mungkin menjerumuskan muridnya.

Alhamdulillah, Prof. Kudang dapat menyelesaikan syarat yang diminta oleh KH. Mohammad Mudzaffar. dalam waktu 3 tahun dan tepat di saat menginjak umur kepala empat.

Inilah momen dimana Prof. Kudang merasakan meraih prestasi yang besar bahkan melebihi saat ia mendapat gelar doktor. Meski usianya telah berumur dan kesibukan semakin menjamur, tapi ia tetap menekuni proses menghafal Al-Qur’an. Bahkan Alquran seperti menjadi candu. Setiap ada kesempatan ia terus menghafal Quran. Selalu diluangkannya waktu untuk menambah hafalan Quran dan murojaah di kediaman KH. Mohammad Mudzaffar. Dari satu ayat, dua ayat, tiga ayat, satu halaman, dua halaman, satu surat kemudian beralih ke surat berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya tepat di usianya yang ke 45 tahun, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz-nya.

Meski proses menghafal telah usai tetapi Prof. Kudang merasakan bahwa perjuangan untuk terus bersama Alquran masiih terus berjalan hingga akhir menutup mata. Karena hafalan 30 juz Alquran yang telah diukir tidak akan ada artinya jika itu tidak terpendar dalam perilaku.

Sumber: KabarGlobal.com



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline