Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Perjalanan Jauh dalam Mencari Ilmu

0

Saat ini begitu banyak buku dan majelis ilmu yang bisa kita datangi dengan mudah untuk mendapat berbagai pengetahuan. Bahkan hanya dengan duduk  dan memegang smartphone atau komputer kita dapat membaca berbagai macam hal dan mendapat pengetahuan tentang berbagai hal termasuk ilmu agama. Tahukah bagaimana zaman dulu ketika buku masih belum ada, orang-orang harus mendatangi orang yang memiliki ilmu untuk mengetahui kebenaran satu hadits yang disampaikan Rasulullah. Begitupun juga untuk memahami satu ayat Quran, seorang shalih menempuh perjalanan yang jauh.

Berikut penuturan beberapa kisahnya;

Abu Ayub menemui Uqbah bin Amir yang berada di Mesir. Abu Ayub ingin bertanya kepada Uqbah bin Amir tentang sebuah hadist yang didengarnya dari Rasulullah. Sesampainya Abu Ayub di Mesir, ia singgah di kediaman Maslamah bin Mukhklad Al-Anshari yang kala itu menjadi amir (gubernur) Mesir.

Maslamah diberi kabar perihal kedatangan abu Ayub, lalu ia bergegas keluar rumah, dan memeluk Abu Ayub. Ia bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai abu Ayub?”

Abu Ayub menjawab, “Hadist yang aku dengar dari Rasulullah. Selain aku dan Qubah tidak ada yang mendengar hadist tiu. Utuslah seseorang yang bisa mengantarku ke rumah Uqbah!”

Maslamah mengutus seseorang yang menunjukkan rumah Uqbah.

Uqbah diberitahu perihal kedatangan Abu Ayub. Uqbah pun bergegas keluar rumah, dan memeluk Abu Ayub. Ia bertanya, “Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai abu Ayub?”

Abu Ayub menjawab, “Hadist yang aku dengar dari Rasulullah. Selain kau dan kamu tidak ada yang mendengar hadist ttentang menutup aib seorang mukmin.”

Uqbah berkata, “Benar. Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Barasiapa menutupi aib seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menutupi aib orang itu pada Hari Kiamat.”

Abu Ayub berkata kepada Uqbah, “Kamu benar.” Setelah berkata demikian, Abu Ayub meninggalkan rumah Uqbah.

Bejalan dari Kufah ke Madinah untuk Mempelajari Sebuah ayat

Al-Mughirah bin An-Nu’mam berkata, “Aku mendengar Said bin Jubair berkata, “Para ulama kufah berbeda pendapat dalam memahami ayat, “dan barangsiapa yang membunuh orang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahannam, ia kekal didalamnya.” (An-Nisaa’:93). Maka aku pun melakukan perjalanan jauh, agar aku bisa bertanya kepada Ibnu Abbas perihal maksud ayat tersebut. Ibnu Abbas pun menjawab “Ayat (Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam) ini turun terakhir kali, dan tidak ada ayat yang lain yang menakshanya (menghapusnya).”

Jika untuk satu hadits dan satu ayat saja mereka rela berjalan jauh, semoga kita yang telah hidup di zaman yang penuh kemudahan dapat terus menambah ilmu kita dan tidak pernah puas untuk terus belajar.

Abdullah bin al-Mubarak rahimahullaah berkata, “Ilmu itu ada tiga tingkatan: siapa yang masuk kepada tingkatan pertama maka ia akan sombong, siapa yang masuk tingkatan kedua maka ia akan menjadi orang yang tawadhu’, dan siapa masuk tingkatan ketiga maka pasti ia akan merasa bahwa dirinya belum banyak mengetahui”. (Lihat Tadzkirotus Sami’ Wal Mutakalim: 65)

Dan dimanakah tingkatan ilmu kita?[]

Sumber: Golden Stories Kisah-Kisah Indah Dalam Sejarah Islam, Mahmud Mustafa Sa’ad & Dr. Nashir Abu Amir Al-Humaidi, Pustaka Al-Kautsar



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline