Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Saat Zainab binti Rasulullah harus Berpisah dari Suaminya (2 -Habis)

0

 

Enam tahun berlalu, tiba-tiba pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriyah Abul ‘Ash mengetuk pintu rumah Zainab. Tatkala Zainab membuka pintu, beliau seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Abul ‘Ash berkata, “Kedatanganku bukanlah untuk menyerah. Akan tetapi, saat aku pergi berdagang, tiba-tiba pasukan ayahmu yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah merampas barang bawaanku dan aku pun melarikan diri. Sekarang aku mendatangimu secara sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu.” Zainab menjawab dengan rasa sedih dan iba, “Marhaban wahai putra bibi… Marhaban wahai ayah Ali dan Umamah…”.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat subuh, terdengar suara yang keras dari dalam kamar Zainab, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melindungi Abul ‘Ash bin Rabi’.” Maka Rasulullah keluar seraya bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?” Para sahabat menjawab, “Benar wahai Rasulullah.” Beliau melanjutkan, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah aku mengetahui hal ini sedikitpun hingga aku mendengar sebagaimana yang kalian dengar. Orang-orang beriman adalah tangan bagi selain mereka sehingga berhak memberikan perlindungan kepada orang yang dekat dengannya. Sungguh kita akan melindungi orang yang dilindungi oleh Zainab”.

Lalu masuklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui putri beliau, Zainab, seraya berkata, “Muliakanlah tempatnya dan jangan ia berbuat bebas kepadamu karena kamu tidak halal baginya”.

Selanjutnya Zainab memohon kepada ayahnya agar mau mengembalikan barang dagangan Abul ‘Ash. Maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat dimana para sahabat sedang berkumpul. Beliau berkata, “Sesungguhnya laki-laki ini telah kalian kenal. Kalian telah menjarah hartanya. Jika kalian rela, maka kembalikanlah harta tersebut kepadanya dan aku menyukai hal tersebut. Namun jika kalian menolaknya, maka itu adalah fai’ (rampasan) yang Allah karuniakan kepada kalian. Apa yang telah Allah berikan kepada kalian, maka kalian lebih berhak terhadapnya.”

Para sahabat menjawab serentak, “Bahkan kami akan mengembalikan seluruhnya wahai Rasulullah”. Mereka pun menyerahkan semua harta Abul ‘Ash seakan-akan ia tak pernah kehilangan harta tersebut sama sekali.
Kemudian, Abul ‘Ash pergi meninggalkan Zainab menuju Mekah dengan membawa sebuah tekad. Tatkala kafir Quraisy melihat kedatangannya dengan membawa dagangan mereka beserta labanya, mulailah Abul ‘Ash mengembalikan hak kepada masing-masing pemiliknya. Kemudian beliau berdiri dan berseru, “Wahai kaum Quraisy, masih adakah di antara kalian yang hartanya masih berada di tanganku dan belum diambil?” Mereka menjawab, “Tidak. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sungguh kami dapati bahwa engkau adalah seorang yang mulia dan menepati janji.” Kemudian Abul ‘Ash berkata, “Dengarkanlah, bahwa aku bersaksi bahwa tiada Illah yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku masuk Islam tatkala di Madinah, melainkan karena aku khawatir kalian menyangka bahwa aku hanyalah ingin membawa lari harta kalian. Maka, tatkala Allah mengembalikan barang dagangan kalian dan telah aku laksanakan tanggung jawabku, maka aku pun masuk Islam”.

Lantas Abul ‘Ash bertolak menuju Madinah sebagai seorang muslim. Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengembalikan Zainab kepada Abul ‘Ash sehingga keduanya kembali membangun bahtera rumah tangga dengan damai dan bahagia.

Setelah berlalu satu tahun, tibalah waktunya perpisahan yang tak ada perjumpaan lagi di dunia. Sebab, Zainab radhiyallahu ‘anha wafat pada tahun 8 Hijriyah. Beliau mengalami sakit yang masih membekas pada saat keguguran ketika beliau hendak berhijrah. Abul ‘Ash menangisi kepergian beliau hingga menyebabkan orang-orang di sekitarnya turut menangis. Kemudian datanglah ayah Zainab yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sedih dan beliau berkata kepada para wanita, “Mandikanlah dengan bilangan yang ganjil, tiga atau lima kali. Dan jadikanlah yang terakhir dengan menggunakan kapur barus atau semisalnya. Apabila kalian telah selesai memandikannya, beritahulah aku.” Tatkala prosesi mandi telah usai, beliau memberikan kain penutup seraya berkata, “Pakaikanlah ini kepadanya.” []

Sumber: muslimah.or.id



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline