Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Saat Zainab binti Rasulullah harus Berpisah dari Suaminya (1)

0

Zainab binti Rasulullah kala itu telah menikah dengan putra dari bibinya yang bernama Abul ‘Ash bin Rabi’. Saat sang ayah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat sebagai Nabi. Zainab, tentu bersegera menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa oleh ayahnya. Beliau jadikan dienullah sebagai pedoman hidup.

Namun, saat itu suaminya Abul ‘Ash tengah safar sebagaimana kebiasaan orang-orang Quraisy. Dan ketika suaminya kembali, Zainab menceritakan kejadian yang berlangsung selama suaminya pergi. Sekian tahun membina rumah tangga dengan bahagia dan saling mencinta, beliau mengira suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya seperti dirinya. Akan tetapi, suaminya malah diam dan tidak berkata-kata.

Zainab mengira mungkin semuanya belum yakin dan belum mengerti, ia mencoba semua cara untuk meyakinkan suaminya. Namun, ternyata suaminya menolak dan mengatakan , “Demi Allah, bukannya aku tak percaya dengan bapakmu, hanya saja aku tidak ingin jika dikatakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan ridha istriku.”

Sejak itulah, kehidupan Zainab yang bahagia berubah menjadi sengsara. Beliau terpukul dengan reaksi suaminya yang tidak mau masuk Islam. Ia merasa sangat sedih karena ia masih harus tinggal di Mekah tanpa seorang pun yang mampu meringankan penderitaannya. Ayahnya telah berhijrah ke Madinah bersama para sahabat dan saudarinya yang lain. Sedangkan ibunya telah wafat menghadap Ar-Rafiqul A’la.

Tatkala terjadi perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abul ‘Ash untuk memerangi kaum muslimin. Dan Abul ‘Ash menjadi tawanan kaum muslimin. Tatkala Abul ‘Ash dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berpesan kepada para sahabat, “Perlakukanlah tawanan ini dengan baik.”

Rasa sayang Zainab mendorongnya untuk mengirimkan seseorang untuk menebus suaminya dengan harta yang diserahkan kepada ayah beliau beserta kalung pemberian ibu beliau tatkala beliau menikah dengan Abul ‘Ash.

Ketika Rasulullah menerima tabusan dari Zainab, tak henti-hentinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandangi kalung tersebut karena teringat dengan istrinya yang setia yakni Khadijah. Zainab terpaksa merelakan kalung tersebut karena beliau tidak memiliki harta untuk menebus suaminya. Peristiwa yang mengharukan tersebut mengetuk hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Setelah Rasulullah terdiam beberapa saat beliau berkata kepada para sahabat dengan lembut, “Jika kalian melihat bahwa membebaskan tawanan tersebut dan mengembalikan harta tebusannya adalah sebuah kebaikan, maka lakukanlah”. Para sahabat semuanya menjawab, “Baik wahai Rasulullah.” Selanjutnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil janji dari Abul ‘Ash agar membiarkan Zainab berhijrah ke Madinah karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.

Kembalilah Abul ‘Ash ke Mekah dalam keadaan lesu. Zainab yang menyambut kedatangan suaminya dengan riang gembira terheran-heran dengan kondisi suaminya. Abul ‘Ash berkata kepada istrinya sedangkan kepalanya tertunduk, “Aku datang untuk berpisah wahai Zainab!”. Zainab spontan menjadi sedih dan meneteskan air mata. Beliau bertanya dengan terbata-bata, “Hendak kemana? Untuk keperluan apa wahai suamiku yang kucintai?” Abul ‘Ash menjawab sedangkan kedua matanya menatap wajah istrinya, “Bukan aku yang akan pergi wahai Zainab. Tetapi, kamu lah yang akan pergi, ayahmu telah meminta kepadaku agar aku mengembalikanmu kepadanya karena Islam telah memisahkan hubungan di antara kita. Aku juga telah berjanji akan menyuruhmu untuk menyusul ayahmu dan tidak mungkin bagiku untuk memungkiri janji”.

Akhirnya, Zainab berangkat dari Mekah menuju Madinah, meninggalkan suaminya dengan perpisahan yang sangat menyedihkan. Akan tetapi, kaum Quraisy menghalangi perjalanan beliau. Mereka mencegah dan mengancam beliau hingga akhirnya gugurlah kandungannya karena saat itu beliau sedang hamil. Beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah dan dirawat oleh Abul ‘Ash hingga kekuatannya pulih kembali. Saat beliau telah sehat dan orang Quraisy lengah, beliau keluar bersama saudara suaminya bernama Kinanah bin Ar-Rabi’ hingga berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan aman.[] (bersambung)



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline