Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Gelisah Suami

0

 

Pernikahan memang salah satu pintu keberkahan. Segala sesuatu tanpa terasa tumbuh dan berkembang. Yang sebelumbya tidak boleh, dengan pernikahan bukan sekedar boleh, tapi berpahala. Yang sebelumnya tidak ada, sudah mulai banyak. Ada anak-anak, rumah beserta perabot, kendaraan dan tentu saja status diri yang mulai dianggap masyarakat.

Dari sekian buah keberkahan yang selalu bertambah, ada akar keberkahan yang tidak boleh kering. Apalagi mati. Itulah cinta suami istri yang ternaung dalam cinta Yang Maha Pencinta, Allah SWT.

Mungkin, ada perbedaan latar belakang budaya. Ada juga masalah suku, selera, daya tangkap hati, dan seputar kebiasaan masa lajang. Dari cintalah segala perbedaan tadi terjembatani. Tapi, dari cinta pula kekhawatiran bisa muncul berlebihan. Setidaknya, rasa itulah yang sempat dialami Pak Udin.

Bapak tiga anak ini boleh dibilang suami yang beruntung. Betapa tidak, ia dapat anugerah Allah berupa istri shalihah, cantik, lembut, sabar, dan pintar masak. Sebuah deretan kriteria yang sangat diidam-idamkan banyak calon suami. Dan yang paling membuat Pak Udin merasa beruntung, semua anugerah Allah itu ia peroleh sebagai berkah karena aktif di pengajian.

Pria asli Betawi ini sulit membayangkan kalau ia tidak ikut pengajian. Mungkin, sampai tua pun sosok istri dengan kriteria yang ada pada istrinya itu Cuma jadi khayalan. Apalagi modal luar yang dimiliki Pak Udin kurang meyakinkan. Wajah pas-pasan, modal dana tak bisa dibanggakan. Sekali lagi, Pak Udin memang mesti banyak bersyukur. Dan salah satu bentuk syukurnya itu, ia sangat sayang pada istrinya.

Kadang, di tengah rasa sayangnya itu, Pak Udin merasa bingung. Pasalnya, tiap kali datang proses melahirkan, ia seperti dihadapkan pada bayang-bayang kematian. Rasanya, ia seperti dihadapkan dengan sebuah pertukaran: dapat anak hilang istri.

Kegelisahan ini mungkin bisa dibilang wajar. Karena tiap kali menghadapi kehamilan, istrinya mengalami sakit lumayan parah: muntah, lemas, hilang nafsu makan dan pusing. Itu bisa berlangsung hingga tiga bulan. Yang lebih parah di saat-saat menjelang kelahiran. Proses kelahiran yang dialami istri Pak Udin begitu sulit. Ituah kenapa di tiga kali kelahiran selalu berujung pada operasi sesar.

PAK Udin masih ingat betul kegelisahan yang pernah ia alami di kelahiran anak pertama. Pada tiga bulan pertama, ia menatap istri tercintanya yang tak lagi punya daya. Ia seperti sedang menghadapi seseorang yang sakit parah. Bahkan mungkin, koma. Bayangkan, ia Cuma bisa berkomunikasi dengan istri lewat mata. Mulut istrinya seperti terkunci, tangannya terkulai lemas, tubuh tak bisa apa-apa kecuali terbaring. “Ah ini mungkin ini hari-hari terakhir bisa bersama istri,” ujarnya dalam hati. Pak Udin menangis.

Baru beberapa bulan istrinya sembuh, saat-saat kelahira juga membuat Pak Udin deg-degan. Ia sadar betul kalau melahirkan punya risiko kematian. Lagi-lagi Pak Udin gelisah. Yang paling miris adalah ucapan sang istri ketika keputusan operasi sudah diambil. “Bang kalau Allah berkehendak lain, tolong jaga anak kita!” ucap sang istri dengan logat Jawa.

Dalam proses penantian itu, seribu satu masalah mondar mandir di kepala Pak Udin. “Saya akan jadi duda,” batinya muali berbisik. Sesaat kemudian, ia pun istighfar. I abaca berbagai dzikir agar hatinya bisa stabil. Tapi, lamunan buruknya kembali berulang. Seperti ada suara-suara yang terus berbisik. Kalau kamu duda, siapa yang akan mengurus bayi, siaa yang akan memberi semangat kalau ada masalah, siapa yang akan membuat nasi goring jamur. Dan satu lagi, siapa yang mau sama ente?

Bayang-bayang tidak enak itulah lagi-lagi kini dirasakan Pak Udin. Urusannya bukan soal melahirkan. Itu sudah bagian masa lalu. Karena istrinya diminta dokter untuk tidak lagi melahirkan dengan alasan kesehatan. Ia kini bingung karena tidak sempat mengantar istri pulang kampong. Ada kabar mendadak, bapak mertuanya di Jawa Timur sakit keras. Istri Pak Udin diminta pulang.

Sebenarnya, ingin sekali Pak Udin mengantar sang istri hingga ke rumah mertua. Tapi, urusan kantornya masih menumpuk. Dan anak-anak belum libur. Hanya bisa mengantar ke station, Pak Udin melepas istri tercintanya pulang kampong. Mudah-mudahan selamat!

Ada kabar buruk. Sebuah kereta menuju Jawa Timur mengalami kecelakaan. Beberapa gerbong ke luar jalur. Dan sepuluh penumpang dinyatakan tewas. Siapa? Pak Udin memburu berita. Ia menemukan nama Tuti. Tapi tidak jelas Tuti apa. Cuma Tuti. Sementara nama istrinya Tuti Anisa. Tanpa hitung-hitung urusan kantor, Pak Udin langsung berangkat ke Jawa Timur.

Firasatnya makin tidak enak ketika setiba di gang rumah mertuanya, ia menemukan beberapa bendera kuning dari kertas. Langkahnya tiba-tiba melemas. Dadanya bergemuruh. “Istriku…,” suara Pak Udin spontan. Air mata mula mengenang di kedua matanya.

Rumah mertua Pak Udin mulai terlihat. Beberapa orang berkerumun. Di antara mereka tampak menangis. Ia terkulai lemas di sebuah rumah. Seseorang menghampiri. “Udin?” suara orang itu. “Pa’le…!” jawab Pak Udin nyaris tak bersuara. Kedua lelaki itu pun menangis. “Sabar ya, Din. Sabar! Semua sudah kehendak Allah!” suara Pa’le di sela tangis dan dekapannya pada Pak Udin.

Loading...

“Saya tidak nyangka, Pa’le. Dengan cara ini saya berpisah dengan Tuti,” ucap Pak Udin sambil terisak.

“Tuti?” ucap Pa’le agak kaget. “Memang Tuti kenapa, Din?” ucap sang paman menatap Pak Udin. Dan PakUdin pun ikut kaget.

“Astaghfirullah. Yang meninggal itu bapak mertuamu. Istrimu ada di dalam!” terang Pa’le sambil menggeleng.

“Alhamdulillah!” sambut Pak Udin gembira.

“Apa?” tanya Pa’le cepat.

“Eh, anu. Maksdu saya, inna lillah!” ucap Pak Udin dengan tak lagi bisa menyembunyikan bahagianya. []

Sumber: Majalah Saksi No 12/Tahun VII/16 Maret 2005



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline