Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Nasihat untuk yang Masih Buka Tutup Aurat

0

Pertanyaan : Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Ustadz, ada saudara saya yang sudah berhaji tetapi sekarang membuka hijabnya. Apa diperbolehkan kita membuka hijab lagi?

Sebagai saudara, apa yang harus kita lakukan..membiarkan saja atau memberitahunya?

Mohon penjelasan beserta dalil agar mudah untuk menyampaikannya, Ustadz.

Jazzakallahu khair

(Dari : Ninik)

Jawaban : Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillah

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Ia harus dinasehati dengan santun, dijelaskan dalil serta kebaikan mengenakan hijab serta bahaya melepaskan hijab baik di dunia maupun akhirat.

Tidak boleh bagi seorang wanita muslimah melepas jilbab dan pakaian yang sesuai dengan syariat Allāh, karena itu artinya ia melanggar, menentang dan memaksiati Allāh.

Allāh berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allāh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allāh dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab : 36)

Loading...

Adapun kriteria pakaian seorang wanita muslimah yang sesuai dengan ketentuan syariat adalah :

a). Menutup seluruh anggota badan kecuali yang diperkecualikan.

Syaikh Al-Albani menyatakan ketika menjelaskan makna ayat Al-Ahzab 59 di atas :

ففي الآية الأولى التصريح بوجوب ستر الزينة كلها وعدم إظهار شيء منها أمام الأجانب إلا ما ظهر بغير قصد منهن فلا يؤاخذن عليه إذا بادرن إلى ستره.

“Dalam ayat pertama tadi ada ketegasan akan wajibnya menuntup perhiasan seluruhnya dan tidak boleh menampakkannya di hadapan lelaki asing (yang bukan maram) kecuali yang biasa tampak darinya dengan tanpa kesengajaan. Pada kasus ini para wanita ini tidak mendapatkan dosa jika mereka bersegera menutupinya.”. (Jilbab Mar’ah Muslimah : 39).

b). Pakaian dan jilbab yang dikenakan tidak berupa hiasan.

Allah ta’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS Al-Ahzab : 33).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثلاثة لا تسأل عنهم: رجل فارق الجماعة وعصى إمامه ومات عاصيا، وأمة أو عبد أبق فمات، وامرأة غاب عنها زوجها قد كفاها مؤونة الدنيا فتبرجت بعده

“Ada tiga golongan manusia yang kalian jangan bertanya tentang mereka ; Lelaki yang memberontak kepada jamaah dan memaksiati penguasanya dan ia mati dalam kondisi tersebut. Budak wanita atau budak yang minggat lalu mati, serta istri yang ditinggal suaminya dan dicukupi kebutuhannya lalu ia keluar rumah dengan bersolek.” (HR Hakim : 1/119, Ahmad : 6/19).

c). Tidak tembus pandang

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سيكون في آخر أمتي نساء كاسيات عاريات على رؤوسهن كأسنمة البخت العنوهن فإنهن ملعونات

“Akan ada sekelompok orang dari umatku para wanita yang berpakaian tetapi telanjang kepala mereka seperti punuk-punuk onta, laknatlah mereka karena mereka kaum yang terlaknat.” (HR Ahmad : 2/223, Ibnu Hibban : 13/64).

d). Longgar dan tidak sempit

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma berkata :

كساني رسول الله صلى الله عليه وسلم قبطية كثيفة مما أهداها له دحية الكلبي فكسوتها امرأتي فقال : ما لك لم تلبس القبطية ؟ قلت : كسوتها امرأتي ، فقال : مرها فلتجعل تحتها غلالة ، فإني أخاف أن تصف حجم عظامها

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memakaikanku kain Qibtiyyah yang tebal yang dihadiahkan kepada beliau oleh Dhihyah Al-Kalbi. Aku lantas memberikannya kepada istriku

Nabi bertanya : Kenapa engkau tidak memakainya ?

Aku menjawab : Aku memberikannya kepada istriku.

Beliau berkata : Perintahkan kepada istrimu agar menambahkan bagian bawahnya aku khawatir kain itu membentuk tulang-tulangnya.” (HR Dhiya’ Al-Maqdisi dalam Al-Ahadits Al-Mukhtarah : 1/441).

e). Tidak diberi wewangian/parfum

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أيما امرأة استعطرت فمرت على قوم ليجدوا من ريحها فهي زانية

“Wanita mana saja yang keluar dengan memakai wewangian lalu ia lewat di hadapan suatu kaum hingga mereka mencium bau wanginya maka wanita ini adalah seorang pezina.”(HR Nasa’i dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Sunan An-Nasa’i : 5141).

f). Tidak menyerupai pakaian lelaki

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لعن النبي صلى الله عليه وسلم المخنثين من الرجال والمترجلات من النساء

“Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang kewanita-wanitaan (banci) dan para wanita yang kelelaki-lelakian (tomboy).” (HR. al-Bukhari : 5886).

g). Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir

h). Bukan pakaian syuhrah/pakaian ketenaran

Wallahu A’lam

Wabillahit Taufiq

 

Dijawab oleh : Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله



Artikel Terkait :
Loading...
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline