Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Cinta Tak Selamanya Harus Bersatu (2- Habis)

0

Di hadapan laki-laki mulia itu ada segelas susu. Maka ia meminum sebagiannya. Dan memberikan sebagiannya kepada wanita yang dicintainya dan mencintainya itu. Ummu Hani’ segera meminumnya. Setelah meminumnya, barulah ia mengungkapkan, “Sesungguhnya aku sedang puasa.”

Laki-laki mulia itu bertanya, “Puasa wajib?”

Ummu Hani’ menjawab, “Bukan.”

Laki-laki mulia itu pun berkata, “Kalau begitu tidak masalah. Tapi apa yang membuatmu melakukan ini?”

Ummu Hani’ menjawab, “Karena aku ingin meminum bekasmu.”

Ya Robb, cintaaaa…..

Setelah cinta bertemu cinta. Pertemuan dalam naungan hidayah dan perjumpaan yang halal. Apakah dua cinta akan melebur menjadi bahagia?

Akankah mereka merangkainya hingga menjadi untaian bunga mengalungi sisa usia mereka?

Apakah ini masa cinta memanen hasil kesabarannya?

Ajaibnya… TIDAK

Mengapa…?

Bukankah….

Bukankah….

Ya, justru karena cintalah yang menghalangi. Karena tulusnya. Karena sucinya. Maka ia tak mau mengotori. Tak tega jiwanya menodai.

Cinta dalam diri Ummu Hani’ menjelaskan dengan berat kata,

“Aku telah mempunyai banyak anak. Dan aku tidak mau mereka mengganggumu.”

Loading...

Cinta terus mengeja alasan,

“Karena hak suami sangatlah agung. Aku takut, jika aku sedang memberikan hak suami, aku mengabaikan sebagian hak diriku dan anak-anakku. Dan jika aku sedang memberikan hak anak-anakku, aku mengabaikan hak suamiku.”

Laki-laki mulia itu hanya terdiam. Sunyi lisan hingga jiwanya.

Sungguh kita telah belajar banyak dari cinta suci Ummu Hani’ dan laki-laki mulia. Sebagaimana cinta tak perlu diundang untuk datang, maka ia tak bisa diusir untuk pergi. Cinta sering masuk tanpa izin. Dan ia juga sering tak mau pergi walau telah diminta dan dipaksa pergi.

Karena ia memilih tinggal di hati. Sementara hati kita bukan milik kita.

Maka, cinta kembali menunjukkan keberadaannya dengan getarnya saat berjumpa dengan cintanya. Tak perlu risau. Seperti Ummu Hani’ dan laki-laki mulia itu. Getar cinta itu hadir saat pintu halal telah terbuka kembali. Dan laki-laki mulia itu menyatakan cintanya dengan berkata: Aku melamarmu.

Selanjutnya serahkan, bagaimana cinta memutuskan.

Tahukah anda, siapa laki-laki mulia yang bersemi cinta dalam dirinya itu. Siapakah laki-laki mulia yang tertahan cintanya karena ditolak lamarannya itu. Siapakah laki-laki mulia yang masih memberi ruang untuk cinta bersemayam puluhan tahun lamanya itu. Siapakah laki-laki mulia yang akhirnya mendialogkan cintanya itu.

Tahukah anda siapa beliau.

Beliau adalah Rasul kita, Rasulullah Muhamad shallallahu alaihi wasallam.

Ummu Hani’ pun berkata,

“Rasulullah melamarku, aku meminta maaf kepada beliau dan beliau pun memahami. Kemudian turunlah firman Allah:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ…………. اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya ………………………..yang turut hijrah bersama kamu.” (Qs. Al Ahzab: 50)

Aku tidak halal baginya karena aku bukan termasuk wanita yang hijrah bersamanya. Aku termasuk orang-orang yang dibebaskan (di Fathu Makkah).”

Cinta begitu tahu diri. Walau ia terus meminta dan menuntut. Tapi cinta suci tahu diri. Tak menuntut melebihi batas dirinya. Sadar siapa dirinya. Seperti cinta Ummu Hani’.

Setelah Ummu Hani’ menolak lamaran Rasulullah walau sebenarnya tak kuasa, Rasulullah terdiam. Tentu terlalu banyak ungkapan jiwa beliau, tapi tak terungkapkan.

Dialog cinta ini diakhiri dengan pujian tulus Rasulullah kepada wanita istimewa yang dicintainya itu. Pujian yang menambah kilau Ummu Hani’,

“Sesungguhnya sebaik-baik wanita yang mengendarai unta (maksudnya, wanita Arab) adalah wanita Quraisy; paling lembut kepada anaknya di usia kecil dan paling menjaga yang dimiliki oleh suaminya.”

Dan kisah cinta ini berakhir sampai di sini. Walau mungkin cinta tetap menetap di relung jiwa. Hingga ajal memisakan keduanya. Rasulullah menghadap Rabb nya pada taun 11 H dan Ummu Hani’ mengakhiri perjalanan cintanya di dunia menuju cinta abadinya di akhirat pada sekitar tahun 50 H.

Kisah cinta yang tulus tapi harus mengalami perpisahan cinta. Kemudian dipertemukan lagi dalam cinta. Tapi harus berpisah lagi untuk mengakhiri babak cinta mereka.

Tetapi tetap saling menyapa dengan tutur lembut, karena begitulah cinta. Tetap saling menghargai, karena begitulah cinta. Tetap saling menghadiahi, karena begitulah cinta. Dan saling mendoakan kebaikan walau tetap tak bisa bersatu, karena begitulah cinta yang suci dan tulus itu. []

Sumber: parentingnabawiyah.com



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline