Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Kebersamaan Rasulullah Bersama Cucunya

0

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok teladan dalam segala hal. Ia adalah ayah terbaik bagi anak-anaknya. Suami terbaik bagi istri-istrinya. Kakek terbaik bagi cucu-cucunya. Guru terbaik bagi murid-muridnya. Pemimpin terbaik bagi umatnya, dan seterusnya.

Diantara hadits-hadits yang menjelaskan kebersamaan Nabi bersama cucunya adalah :

1. Dalam Shahihain dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah pernah shalat sambil membawa umamah binti Zainab binti Rasulullah. Zainab adalah istri dari Abul Ash bin Ar-Rabi. Bila berdiri, beliau menggendongnya, sedangkan bila sujud, beliau meletakkannya. Hal itu dilakukan oleh beliau adalah shalat wajib.

2. Dalam riwayat Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah mencium Hasan bin Ali dan disisi beliau ada Al-Aqra’ bin Haris. Al-Aqra pun berkata : “Saya memiliki sepuluh anak, namun saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka. Rasulullah memperhatikan dirinya lalu bersabda ; “Siapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi”.

3. Nabi juga pernah mencandai Hasan dan Husain. Beliau bergurau dan duduk bersama mereka berdua. Beliau pernah menggendong mereka berdua di punggung beliau. Beliau juga pernah menjulurkan lidahnya ke Husain, dan apabila Husain melihat, ia pun tertawa. Beliau juga pernah menyimpan air di mulut beliau, lalu menyemprotkannya ke wajah Hasan, dan ia pun tertawa.

4. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab Radhiallahu Anhu pernah berjalan merangkak, sedangkan anak-anakanya naik di punggungnya sambil bermain. Umar berjalan seperti kuda. Orang-orangpun masuk dan melihat Khalifah mereka sedang melakukan hal itu. Mereka berkata : “Apa engkau pantas melakukan hal itu, Wahai Amirul Mukminin? Umar menjawab, “Ya, benar. Umar juga pernah berkata : “Seorang Ayah seharusnya menjadi seperti anak-anak (yaitu dalam kelembutan dan keterbukaan) dalam keluarganya.” Beginilah seharusnya sikap seorang ayah bersama anak-anaknya dirumah. Sedangkan, bila bersama khalayak, ia harus menjadi laki-laki (yang tegas). (Ahmad Al-Qhathan, hal. 24). []

 

Sumber: Bimbinganislam



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline