Breaking News
Foto: Burungnya.com

Shalihah, Mati Itu Diawali dengan Sakaratul Maut

Shalihah, tentu kita yakin bahwa kematian pasti akan menghampiri kita. Dan kita pun tahu bahwa sebelum kematian itu datang, akan ada sakaratul maut yang datang memulainya..

Sudah berapa banyak keluarga, saudara, dan teman-teman kita yang merasakannya..

Pernakah kita membayangkan, mungkin hari ini, esok atau lusa, kitalah yang menjadi gilirannya..

Allah sudah menetapkan ajal setiap jiwa, tetapi tidak ada satu pun yang tahu kapan ajal itu tiba, karena ajal termasuk rahasia milik Allah semata.

Firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(Lukman:34).

Firmannya (yang artinya) :

“Dan Dialah penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, melaikat-malaikat Kami mencabaut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling tepat”. (Al-An’am : 61-62)

Jika maut datang tidak ada yang bisa memajukan ataupun mengundurkan barang sesaat.
Firmannya,

ولكل أمة أجل فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون.

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang ajal mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”(Al-A’raf:34)

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan.

Karena itu Allah berfiman (yang artinya):

“Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”.[Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hlm. 833.]

Hendaknya kita selalu mempersiapkan datangnya kematian dengan memperbanyak amal kebaikan dan menjauhi semua bentuk kemaksiatan, karena kita tidak tahu kapan kematian menjemput kita.

Rasulullah mengingatkan kepada kita agar memperbanyak mengingat kematian, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah, 4259, dihasankan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1384).

Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian” (HR. An-Nasa’I, At-Tarmidzi No. 2307, disahihkan Al-Albany)

Seseorang akan mati sesuai kebiasannya. Barangsiapa yang sibuk dengan beribadah, bertaubat, berdzikir dan mencintai Allah Ta’ala ketika ia hidup, maka insya Allah dia pun akan disibukkan dengan hal tersebut ketika ruhnya akan keluar menuju Allah. Sebaliknya, seseorang selama hidupnya disibukkan kepada selain Allah ketika ia masih hidup, maka ia akan sangat sulit untuk mengingat Allah ketika datangnya sakaratul maut, kecuali dengan rahmat Allah.

Allah mengabarkan kondisi kematian orang mukmin dalam keadaan baik dengan firman-Nya:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salamun ‘alaikum (keselamatan sejahtera bagimu)”, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. [An Nahl: 32] .
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa, yang melaksanakan perintah Rabb mereka dan menjauhi larangan-Nya akan diwafatkan para malaikat yaitu dengan mencabut nyawa-nyawa mereka dalam keadaan thayyibin (baik), yakni bersih dari syirik dan maksiat, (ini) menurut tafsiran yang paling shahih, (juga) memberi kabar gembira berupa syurga dan menyambangi mereka mereka dengan salam…[Adhwaul Bayan (3/266)]

Sudahkah engkau merenungkan kematian hari ini? []

 

Sumber: Ayongajipurwakarta



Artikel Terkait :

About Ummu

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Jangan Tinggalkan Shalat

Tidak semua ibadah termasuk rukun Islam. Ini menunjukkan ibadah-ibadah yang termasuk rukun Islam adalah ibadah yang sangat penting dan urgen. Dan diantaranya adalah shalat.

Tinggalkan Balasan