Breaking News
Foto; Gulalives

Ingin Anak Patuh Tanpa Bentakan? Coba Cara Ini

Umi, setiap orangtua tentu memiliki cara yang berbeda dalam berkomunikasi dengan anak mereka. Cara yang kita lakukan dalam berkomunikasi dengan anak ini, akan memengaruhi cara si anak dalam mendengar dan menuruti kata-kata kita.

Agar anak menjadi seorang yang penurut, sebaiknya hindari bentakan saat berbicara pada anak. Meski sulit, kita tetap perlu mengendalikan diri saat berkomunikasi dengan anak. Lalu, bagaimana cara agar anak kita menjadi penurut tanpa bentakan? Berikut sejumlah tips sederhananya,

1 . Sebutkan namanya dengan nada positif

Pikiran anak-anak sering tidak fokus. Banyak hal yang bisa dipikirkan, mulai dari soal teman-temannya, sekolah, dan hal-hal lainnya. Untuk mendapatkan perhatian anak, sebutkan dan panggil namanya dengan nada positif dan biasa. Akan butuh waktu beberapa saat sampai Umi bisa mendapat perhatian anak sepenuhnya. Di sini Umi memang harus bisa benar-benar bersabar. Saat perhatian anak sudah Umi dapatkan, baru Umi sampaikan pesan yang ingin Umi berikan pada anak.

2 . Gunakan bahasa yang positif

Sebisa mungkin hindari penggunaan kata jangan,tidak boleh, dan sejenisnya. Agar anak merasa percaya diri dan nyaman, Umi perlu menggunakan kata-kata yang positif. Jelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak. Misalnya, “Tolong bawa piring-piring kotor ini ke bak cucian, ya. Terima kasih.” Hindari menggunakan kata atau nama panggilan yang membuat anak tak nyaman.

3 . Lakukan kontak mata

Dekati anak, usahakan posisi sejajar dengannya (Umi bisa menunduk atau berjongkok), lalu tatap matanya. Tapi jangan terlalu terlihat mengancam. Cara ini untuk memastikan Umi menaruh perhatian sepenuhnya saat berkomunikasi dengan anak. Anak-anak pun akan lebih nyaman saat orang tua yang mengajaknya bicara berada dekat dengannya.

4 . Bersikap Asertif

Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Ketika Umi berkomunikasi dengan anak, Umi perlu bersikap asertif. Gunakan kalimat dan nada yang jelas, positif, dan padat. Sebagai contoh, “Setelah selesai membereskan mainan, Adik boleh nonton TV atau main di luar.” Jelaskan pada anak soal apa yang harus mereka lakukan, apa alasan mereka, dan bagaimana mereka bisa menyelesaikannya.

Satu lagi yang harus Umi perhatikan saat berkomunikasi dengan anak adalah perasaan atau mood yang sedang ia rasa. Di sini Umi memang harus lebih peka dan hati-hati. Apakah anak sedang lelah, marah, kecewa, cemas, atau mengkhawatirkan sesuatu, perhatikan raut wajahnya. Sebisa mungkin jangan menghakimi anak. Posisikan diri Umi sebagai orang tua yang akan membantu mereka mengatasi masalahnya. Sehingga komunikasi bisa lebih diterima.

Cara berkomunikasi dengan anak memang perlu teknik dan metode khusus. Semoga cara yang Umi pilih saat ini bisa memberi dampak positif bagi tumbuh kembangnya. Aamiin.[]

 

sumber: vemale.com



Artikel Terkait :

About Mila Zahir

Check Also

hambatan belajar anak

Apakah Anak Anda Alami Depresi?

Sama seperti orang dewasa anak-anak mengalami perubahan perasaan. Mereka bisa merasa bosan, cemas, sedih, kecewa, malu, dan takut. Orang dewasa yang memiliki kematangan psikologis cenderung tahu bagaimana mengontrol perasaan-perasaan tersebut. Sementara anak-anak, cenderung belum bisa mengontrol dan mengelolanya dengan cara yang baik dan sehat. Penting untuk mengajari mereka keterampilan menghadapi ketakutan, menenangkan diri, dan menghibur diri.

Tinggalkan Balasan