Breaking News
Foto: Rahmi Aziza

Suami Marah? Gak Usah Panik, Ukh!

“Kok gak ada makanan? Lapar banget nih,” keluh Roby saat melihat meja makan yang kosong.

“Biasanya kan ayah makan di luar,” balas Dea membela diri.

“Tadi sibuk banget. Selesai meeting sudah jam 7, macet, mana sempat makan di luar. Cepat-cepat pulang mau makan malah gak ada apa-apa,” Roby sewot.

“Ya mana aku tahu. Ya sudah, beli makan saja di depan. Aku capek banget hari ini.”

“Capek? Aku yang lebih capek, setiap hari pergi pagi pulang malam biar kamu dan anak-anak bisa makan.”

“Oh.. Jadi kamu kira aku di rumah enggak ngapa-ngapain? Baju kamu, siapa yang cuciin? Rumah ini, siapa yang bersihin setiap hari? Anak-anak kamu itu, siapa yang ngerawat? Ha??”

“Itu kan memang tugas kamu!”

“Cari nafkah juga tugas kamu!

Dan, suasana tegang itu terus berlanjut dengan saling melotot—

Ukhti, apakah kita pernah melakukan hal serupa? Ketika suami membuat jengkel atau menyakiti, kita balas dengan melakukan hal yang menjengkelkan pula, atau menyerangnya dengan kata-kata yang tajam sehingga membuatnya terdiam? Yang disayangkan, hal ini ternyata kerap terjadi di banyak rumah tangga.

Saat salah satunya tersakiti, ia balas menyakiti. Saat yang satu merasa haknya terabaikan, ia balas mengabaikan hak pasangan. Tentu dapat kita bayangkan bahwa rumah tangga seperti ini sedang menuju kehancuran sebab mereka menciptakan nerakanya sendiri. Kita tentu tidak ingin membangun rumah tangga yang demikian bukan?

Karenanya, saat suami bersikap tidak sesuai harapan, jangan hanya memprotes, mengeluh, dan berbalik menyiksanya. Ketika menghadapi situasi suami yang sedang marah, langkah pertama yang perlu Anda laukan adalah diam. Jangan membalas perkataannya. Dengarkan dengan penuh cinta, bersabarlah. Setelah ia selesai menumpahkan kekesalannya, tarik napas yang dalam dan dengan suara lembut tawarkan sesuatu yang bisa menyenangkan hatinya, secangkir teh misalnya. Berikan teh itu sembari tersenyum. Ajaklah ia bicara ketika suasana hatinya telah tenang. Ingat, bicara, bukan menyerang atau mengoreksinya.

“Tapi, kan dia yang marah-marah duluan. Dia yang salah. Bukan aku. Dia saja tidak peduli padaku, ngapain aku peduli padanya?”

Ukhti, saat Anda berpikir demikian, sesungguhnya suami Anda pun sedang berpikir demikian. “Dia aja gak peduli, ngapain saya peduli dengannya?”

Bagaimana mungkin rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta bisa dibentuk oleh dua insan yang sama-sama tidak saling peduli?

Ukhti, karena Anda merasa tersakiti, bukan berarti Anda pun balas menyakitinya. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi menambah masalah baru.

Perlu digarisbawahi bahwa dalam pernikahan, bukan satu tambah satu sama dengan dua. Tidak bisa rumah tangga memiliki dua kepala yang memiliki tujuan berbeda tanpa ada kompromi atau musyawarah. Sejatinya, manusia memiliki impian dan keinginan masing-masing. Namun, ketika menikah, ia harus berbagi dan berkompromi dengan pasangan sehingga dalam pernikahan, setiap orang harus mampu menurunkan egonya. Menurukan ke-“aku”-annya menjadi setengah agar bisa terwujud “kita.” []

 

Sumber: abiummi.com

About Mila Zahir

Check Also

8 Syarat yang Membuat Pernikahan Penuh Berkah

Menikah adalah ibadah, menikah adalah realisasi dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, menikah adalah bagian dari aplikasi syari’ah. Maka luruskan niat, ikhlas karena Allah, karena menikah akan menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia.

Tinggalkan Balasan