Breaking News
Foto: pixabay

Inilah 3 Jenis Sabar

Sabar, dalam kondisi apakah kita harus bersabar? Sering sekali kita mendengar kata sabar ini dalam kehidupan sehari-hari dan dalam setiap keadaan. Dalam beragama ulama mengklasifikasikan sabar dalam tiga jenis, yaitu:

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.

2. Sabar dari perbuatan maksiat, selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.

3. Sabar atas segala musibah yang menimpa. (Lihat Qaidah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hlm. 90—91, Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi 3/101, Madarijus Salikin 2/156, dll.)

Perbuatan apa sajakah yang dapat meniadakan (menafikan) kesabaran? Menurut al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 228), hal-hal yang menafikan kesabaran adalah rasa kesal dalam kalbu, berkeluh kesah dengan lisan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, dan melakukan perbuatan maksiat, seperti menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, mencabut-cabut rambut, dan yang semisalnya.

Bagaimana halnya dengan berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala, apakah menafikan kesabaran? Berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak menafikan kesabaran. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Ya’qub yang berkeluh kesah kepada Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada mengetahuinya’.” (Yusuf: 86)

Meski demikian, Allah Subhanahu wata’ala menyitir ucapan Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam yang lainnya,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83)

Adapun menyampaikan kesulitan yang dihadapi (curhat) kepada makhluk, jika untuk meminta bimbingan dan bantuan untuk menghilangkan kesulitan tersebut, tidak menafikan kesabaran. Misalnya, keluhan pasien kepada dokter,  orang yang dizalimi kepada seseorang yang dapat membelanya, atau curhat seseorang yang sedang mengalami problem kepada orang lain yang diharapkan bisa memberikan solusinya.

Bagaimanakah dengan rintihan di kala sakit? Menurut al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam Uddatush Shabirin (hlm. 229), rintihan di kala sakit ada dua macam; rintihan yang mengandung keluh kesah maka hukumnya makruh, sedangkan rintihan untuk melepas kegundahan dan menghibur diri maka tidak mengapa. Wallahu a’lam. []

Sumber : AsSyariah Online



Artikel Terkait :

About Wini

Check Also

rasa syukur, kecantikan, anugrah dari Allah

10 Bahan Alami Mencerahkan Bibir

Keindahan bibir dilihat dari bentuk dan warnanya, konon bibir dengan warna merah merona merupakaan dambaan setiap wanita. Begitu pentingnya bibir bagi penampilan kaum Hawa, bahkan membuat orang rela melakukan berbagai cara memerahkan bibir.

Tinggalkan Balasan