Breaking News
Foto: dailyscandinavian.com

Sudah Nikah, Masih Ingat Mantan? Waduh…

Jika ada sepasang insan yang saling mencintai, maka cara terbaik untuk mengikat cinta di antara keduanya dengan kerberkahan dan kehalalan adalah sebuah pernikahan. Namun, ada kalanya pernikahan dibangun tanpa dasar cinta. Kasus yang banyak terjadi adalah perjodohan yang dipaksakan hingga sampai ke pelaminan. Setelahnya, jangankan mencapai tujuan sakinnah, mawwadah wa rahmah, banyak pasangan justru merasa tidak bahagia. Bisa jadi karena masih teringat mantan. Apalagi jika hal ini menimpa seorang istri. Duh, jika terjadi demikian harus bagaimana?

Pertama-tama perlu diketahui bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dan suci. Ia adalah ikatan yang sangat kuat (mitsaqan ghalizha) yang tidak boleh dipermainkan (lihat QS an-Nisa: 21). Ketika seseorang memasuki gerbang pernikahan dan melakukan ijab kabul berarti ia siap memikul tanggung jawab dan konsekuensi baik sebagai suami maupun sebagai istri.

Kedua, Karena Anda sudah menjadi seorang istri maka di antara tanggung jawab istri adalah taat kepada Allah, taat kepada suami, serta menjaga diri, harta, dan kehormatan di saat bersama suami, apalagi di saat tidak bersamanya. Yakni ketika suami bekerja dan berada di luar rumah (QS an-Nisa: 34). Istri shalihah harus bisa menjaga pergaulan, membatasi interaksi dengan lelaki asing, serta tidak boleh mengkhianati suami.

Ketiga, pernikahan yang Anda lakukan dengan suami Anda sekarang merupakan jodoh yang sudah ditetapkan oleh Allah. Karena itu Anda harus menjaganya dengan baik. Itulah pilihan terbaik untuk Anda. Apalagi suami Anda bertanggung jawab dan sangat menyayangi Anda, serta diterima baik oleh keluarga Anda. Sementara orang yang pernah dekat dengan Anda belum tentu bisa bertanggung jawab serta belum tentu menyayangi setulus dia. Namun kadang setan memang membisikkan sesuatu yang bisa merusak kehidupan suami istri yang pada akhirnya melahirkan bencana dan petaka. Allah befirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik buat kalian dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk buat kalian. Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).

Keempat, jika Anda berusaha mempertahankan dan menjaga keutuhan rumah tangga karena Allah, maka pasti Anda diberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika Anda memberikan yang terbaik kepada suami Anda, pasti Anda juga diberi yang terbaik oleh Allah. Demikian seterusnya.

Maka, meski pun belum tumbuh rasa cinta terhadap pasangan karena pernikahan yang terpaksa dilakukan, yang harus dipegang teguh adalah komitmen kepada Allah SWT. Sebab tujuan pernikahan bukanlah untuk memuaskan keinginan seseorang atau untuk kebahagiaan semu yang sifatnya sementara. Tujuan pernikahan adalah ibadah demi memperoleh ridho Allah. Maka, walaupun cinta terhadap pasangan masih separuh hati, yang harus tetap  diperjuangkan sepenuh hati tentunya adalah cinta Allah SWT.

Hal lainnya, saat Anda dan suami sudah dikaruniai keturunan, didiklah anak-anak Anda untuk menjauhkan diri dari kegiatan pacaran, agar tak terjadi di masa depan, saat anak-anak Anda telah menikah, mereka ingat mantan sebagaimana yang Anda alami sekarang. []

 

Sumber: Islampos

About Mila Zahir

Check Also

8 Syarat yang Membuat Pernikahan Penuh Berkah

Menikah adalah ibadah, menikah adalah realisasi dari ketaatan kepada Allah dan Rasul, menikah adalah bagian dari aplikasi syari’ah. Maka luruskan niat, ikhlas karena Allah, karena menikah akan menjadi ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia.

Tinggalkan Balasan