Breaking News
Foto: Pinterest

Ketika Suami dan Istri Tidak Satu Jalan, Hati-hati!

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan namun juga menyatukan seluruh perbedaan dalam segala aspek diri maupun kebiasaan. Sebagai pasangan yang baik tentu saja dituntut harus mampu memahami seluk beluk lawan pasangannya, maka dari proses penyatuan jiwa itulah yang akan mampu membawa rumah tangga kepada pintu kebahagiaan.

Suasana kesejiwaan ini yang membuat berbagai persoalan hidup mudah diselesaikan dan dicarikan jalan keluar. Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri mudah berkomunikasi dan tidak kesulitan untuk mengekspresikan harapan serta keinginan. Mereka berinteraksi dengan nyaman, tanpa ada sekat psikologis. Merasa demikian dekat satu dengan yang lain, tanpa ada jarak yang memisahkan mereka berdua.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri saling bisa berbagi kebahagiaan tanpa ada keinginan untuk mengalahkan dan menjatuhkan pasangan. Yang mereka lakukan adalah usaha untuk memenangkan kebersamaan, sehingga masing-masing telah rela untuk menundukkan ego demi kebahagiaan bersama. Bukan hanya berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri dengan melukai pasangan, bukan pula hanya membahagiakan pasangan dengan melukai diri sendiri.

 

Dari pengalaman di ruang konseling, kami menemukan gejala suami istri yang belum mencapai kesejiwaan adalah sebagai berikut:

1. Merasakan suasana tidak nyaman saat bersama pasangan
Saat suami dan istri merasakan suasana tidak nyaman saat berduaan, inilah di antara gejala belum ditemukannya titik kesejiwaan. Ini menyangkut suasana di dalam jiwa. Suami atau istri yang merasa gelisah ketika berada di dekat pasangan. Ada berbagai hal yang membuat mereka menjadi saling tidak nyaman saat bersama. Bertemu pasangan seakan-akan menjadi beban yang memberatkan.

2. Lebih menikmati kesendirian
Saat suami dan istri lebih merasa nyaman ketika sendirian, ini merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Jangan dianggap sebagai sesuatu yang remeh, karena jika perasaan ini dibiarkan berkembang dan bertahan dalam waktu lama, akan membuat cinta mereka semakin sirna. Akhirnya tidak ada lagi ikatan yang menyatukan mereka berdua, karena masing-masing lebih menikmati kesendiriannya.

3. Munculnya perasaan hambar
Harusnya suami dan istri itu memiliki perasaan yang istimewa. Namun seiring berjalannya waktu dan menumpuknya persoalan, kadang dijumpai perasaan yang hambar dan bahkan dingin saja. Suami dan istri tidak memiliki keistimewaan perasaan terhadap pasangan lagi. Rasanya biasa saja saat bersama pasangan. Tidak ada kebanggaan, tidak ada keceriaan, tidak ada keistimewaan. Biasa saja, tanpa suatu aroma yang bercorak khusus.

4. Mudah muncul emosi
Saat belum menemukan titik kesejiwaan, suami dan istri akan mudah marah dan emosi. Untuk urusan yang sepele dan sederhana mereka mudah meledak emosinya. Hanya karena salah bicara yang tidak sengaja, atau bersikap yang tidak sesuai keinginan pasangan, sudah muncul emosi dan kemarahan yang tidak tertahan. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah. Marah kok sedikit-sedikit, hehe.

5. Mudah tersulut konflik
Hanya karena hal-hal sederhana, mudah membuat suami dan istri terlibat pertengkaran. Sangat banyak konflik tidak produktif dan tidak semestinya terjadi dalam keluarga mereka. Segala sesuatu pembicaraan di antara mereka selalu menimbulkan pertengkaran, sampai akhirnya merasa lelah untuk berbicara. Memilih mendiamkan masalah serta menumpuk-numpuk persoalan karena tidak ingin meledak menjadi pertengkaran.

6. Sering salah paham
Setiap pembicaraan dan komunikasi, tidak berujung kepada pengertian, namun justru menimbulkan kesalahpahaman. Kata-kata dan kalimat sering disalahpahami, pesan yang ingin disampaikan tidak dimengerti maknanya oleh pasangan.

7. Tidak ada yang mau mengalah
Ketika suami dan istri belum mencapai kesejiwaan, masing-masing selalu menganggap dirinyalah yang benar, dan pasangannya berada di pihak yang salah. Keduanya merasa heran, mengapa pasangannya tidak pernah merasa bersalah. Suami merasa dirinya yang benar dan istri yang salah. Sebaliknya, istri merasa dirinya yang benar dan suami yang salah. Keduanya tidak ada yang mau mengalah dalam setiap konflik dan pertengkaran. Ego masing-masing masih sangat dominan.

8. Tidak bisa lagi menikmati aktivitas fisik bersama pasangan
Ketika aktivitas fisik sudah tidak lagi bisa dinikmati, padahal tidak ada kendala usia maupun kesehatan, ini adalah tanda belum menemukan kesejiwaan. Mestinya suami dan istri itu bahagia dengan berbagai aktivitas fisik bersama. Sejak dari cumbu rayu, hubungan seksual, atau sekedar berjalan-jalan dan aktivitas fisik berduaan, merupakan hal yang seharusnya sangat menyenangkan bagi keduanya. Jika aktivitas fisik sudah tidak lagi bisa dinikmati, bahkan dirasakan sebagai beban, ini pertanda mereka belum menemukan titik kesejiwaan.

9. Menganggap dirinya yang selalu mengalah
Suasana belum menemukan kesejiwaan sungguh unik. Suami merasa, selama ini ia selalu mengalah. Ternyata hal yang sama dirasakan oleh sang istri. Ia menganggap selama ini dirinya sudah selalu mengalah. Mereka menuduh pasangannya yang tidak pernah mau mengalah. Bertahun-tahun hidup dalam suasana merasa hanya dirinya saja yang mengalah.

10. Lebih percaya orang lain
Jika suami dan istri lebih percaya informasi orang lain daripada pasangan, ini adalah tanda belum menemukan kesejiwaan. Setiap perkataan pasangan sulit dipercaya, namun demikian mudah mempercayai omongan orang lain. Bawaannya selalu curiga dengan pasangan, seakan-akan yang dilakukan pasangan adalah kesalahan dan penyimpangan. []

Sumber: Kompasiana

 



Artikel Terkait :

About Ralda Rizmainun Farlina

Check Also

rasa syukur, kecantikan, anugrah dari Allah

10 Bahan Alami Mencerahkan Bibir

Keindahan bibir dilihat dari bentuk dan warnanya, konon bibir dengan warna merah merona merupakaan dambaan setiap wanita. Begitu pentingnya bibir bagi penampilan kaum Hawa, bahkan membuat orang rela melakukan berbagai cara memerahkan bibir.

Tinggalkan Balasan