Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Istri Ikhlas Jika Suami Condong kepada Istri yang Lain, Bagaimana?

0

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Jika seorang istri mengikhlaskan suami condong terhadap salah satu dari istrinya, apakah ketentuan dan ancaman Allah masih berlaku? Apakah suami masih tetap terancam gugur sebelah badannya kelak?

Jazzakallahu khair

(Dari Okta di Jakarta)

Jawab :

Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh

Sebelum menjawab pertanyaannya, perlu diketahui bahwa adanya kecenderungan berlebih dari seorang suami kepada salah satu istrinya bukanlah hal terlarang, karena Allah telah menetapkan bahwa seseorang tidak mungkin bisa adil 100% terhadap istri-istrinya dalam hal cinta. Yang dilarang adalah kecenderungan total kepada salah satu istri sehingga mengakibatkan istri lainnya seperti wanita yang terlunta-lunta. Sebagaimana yang Allah firmankan di surah An Nisa’: 129.

Nah, bila ada kecenderungan yang kelewat batas terhadap salah satu istri sehingga menyebabkan istri yang lain tidak mendapatkan keadilan dari segi nafkah lahir maupun jatah bermalam; maka inilah yang dilarang. Namun bila ternyata istri yang tidak mendapatkan keadilan tadi telah rela diperlakukan demikian, maka ini merupakan solusi syar’i agar masing-masing pihak tidak terjerumus dalam dosa.

Hal ini juga otomatis membebaskan sang suami dari ancaman siksa Allah terhadap suami yang tidak adil. Dalilnya ialah bahwa Rasulullah pernah berniat untuk menceraikan Saudah binti Zam’ah karena merasa tidak mampu memberinya hak biologis sebagaimana yang diberikan kepada istri-istri beliau lainnya. Akan tetapi Saudah justru mengikhlaskan jatah bermalam dirinya bersama Rasulullah untuk diberikan kepada Aisyah, dan tidak ingin dicerai oleh Rasulullah.

Rasulullah pun menerima tawaran tersebut sehingga tidak menceraikan Saudah dan sebagai gantinya beliau menggilir Aisyah sebanyak dua malam. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahihain, sehingga tidak diragukan lagi keabsahannya.

Ini menunjukkan bolehnya seorang wanita menggugurkan sebagian dari hak-nya, baik dlm hal nafkah lahir seperti pangan, sandang, dan papan; maupun dalam hal nafkah batin seperti jatah bermalam.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc. MA



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline