Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Kala Mendapat Istri Tidak Sesuai Impian

0

Rasanya akan sulit di temui di zaman sekarang ini, pemuda yang menikah kemudian mendapati isterinya tak sesuai dengan impiannya. Pernikahan tanpa melewati masa pacaran, memang itulah tuntutan syariat Islam. Menikah dengan perjodohan memang seperti itulah para orang-orang shalih menjalaninya.

Saat ijab kabul telah terucap, maka perjalanan pernikahan harus dimulai tanpa ada pembatan. Apapun dan bagaimanapun kemudian keadaan isterinya, para pemuda-pemuda dalam kisah ini memilih untuk bersabar dan berharap balasan yang terbaik.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan diceritakan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan. Ketika masuk menemui si laki-laki, perempuan itu menyatakan memiliki penyakit cacar. Si laki-laki berkata, “Mataku sakit sekali”. Kemudian ia berkata lagi: “Aku sudah tak bisa melihat.” Setelah 20 tahun, perempuan itupun meninggal tanpa menyadari bahwa suaminya itu sebenarnya bisa melihat. Lalu ada yang bertanya kepada si laki-laki itu tentang perbuatannya tersebut, ia berkata: “Aku tidak suka kalau sampai ia menjadi sedih karena aku melihat penyakitnya. Kemudian dikatakan padanya, masa-masa itu telah berlalu.”” (Madarijus Salikin, 2/326).

Pada kisah lainnya Syaikh Doktor Muhammad bin Luthfi Ash-Shabbagh rahimahullah berkata, seorang kawan bercerita kepadaku tentang syaikhnya yang mengutarakan rahasia hidupnya.

Syaikh itu berkata, “Aku telah menjalani kehidupan bersama istriku selama 40 tahun, dan aku tidak pernah melihat satu pun hari yang menyenangkan. Sesungguhnya sejak pertama kali aku masuk menemuinya, aku telah menyadari bahwa sama sekali tidak cocok untukku. Hanya saja ia adalah putri pamanku, dan akupun yakin bahwa tidak akan ada orang yang dapat menerimanya. Lalu aku berusaha dan memohon balasan kebaikan dari Allah. Allah pun mengaruniakanku anak-anak yang penuh bakti dan shalih darinya.

“Ketidaksukaanku padanya membantuku menyibukan diri dengan ilmu. Hasilnya adalah sekian banyak karangan yang aku harapkan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan tergolong sebagai shadaqah jariyah. Hubunganku yang buruk dengannya memberikan kesempatan untuk membina hubungan sosial yang produktif dengan orang banyak. Kalau saja aku menikah dengan orang lain, mungkin hal-hal itu semua sama sekali tidak dapat aku wujudkan.” (Nazharat fil Usrah al-Muslimah, hal. 196)

Kisah ketiga sebagaimana perkataan Syaikh Ash-Shabbagh, Seorang kawan yang lain bercerita kepadaku, ia berkata “Sejak hari pertama pernikahan kami, aku benar-benar tidak menemukan kecenderungan ataupun rasa suka terhadap istriku. Namun aku berjanji kepada Allah akan bersabar bersamanya dan tidak akan mendzaliminya, serta ridha dengan apa yang telah Allah peruntukan bagiku. Kemudian aku mendapatkan kebaikan yang berlimpah berupa harta, anak, keamanan dan taufik.” (Nazharat fil Usrah al-Muslimah, hal. 196).

Inilah keutamaan sabar dan bertawakal, sehingga kekurangan yang didapati tidak menjadi masalah besar. []

 

Sumber: muslimah.or.id
Redaktur: Wini Sulistiani



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline