Breaking News
Foto: onewithnow.com

Bunda, Aku Mau Ikut Valentine

 

“Bunda, aku mau ikut valentine,” ujar Nadine anakku yang masih 5 tahun. Dag dig dug hati ini, tau dari mana ia soal valentine, saya tak pernah membicarakan ini di rumah. Saya tidak boleh panik, saya kemudian bertanya, “Valentine apa ya Nadine? teman kamu di sekolah ada yang namanya Valentine?”

“Bukan Bunda, di sekolah gak ada nama Valentine. Kata Edo, kita akan rayakan valentine dengan tukar cokelat atau permen.”

Deg langsung jantung ini rasanya mau copot. Apa karena ia di sekolahkan di sekolah yang menerima semua agama. Langsung saja pikiran ini berputar dan menebak-nebak. Ah tapi memang tak hanya sekolah, lihatlah di sekeliling pengaruh itu terlalu masif merasuki kehidupan kita-kita. Mulai dari acara televisi dengan iklan dan juga programnya yang menayangkan acara-acara perayaan kasih sayang alias valentine ini. Dan di tempat-tempat umum dekorasi dan segala pernak pernik di jual dengan tema valentine. Tak salah jika kemudian anak-anak pun mudah meniru.

“Kata Edo, valentine itu kasih sayang, sesama teman harus saling sayang kan bunda.”

Nadine kembali memberi penjelasan, sementara bundanya tengah berpikir bagaimana mengatakan masalah valentine ini pada anak 5 tahun. Jadilah sore itu, bukan lagi sore yang santai.

Mulai dari masalah kasih sayang yang bisa ditunjukkan kapan saja dan dengan cara yang telah di atur oleh agama. Kasih sayang sesama muslim bagaikan satu tubuh, ketika ada anggota tubuh yang sakit, maka ia akan turut merasakannya. Kasih sayang pada non muslim di tunjukkan dengan akhlak yang baik, tidak menyakiti, tidak saling mengganggu ketika beribadah.

“Hari Valentine itu bukan budaya orang Indonesia dan juga bukan perayaan untuk orang muslim seperti kita, Nadine.”

Begitu kira-kira aku terus menjelaskan. Bahwa sebagai muslim kita tidak boleh asal ikut-ikutan dengan budaya atau pun kebiasaan orang non muslim. Aku jelaskan bahwa Nabi Muhammad telah mengatakan, “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia menjadi bagian dari kaum itu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

“Sebagai muslim kita harus berhati-hati, jangan sampai kita ikut-ikutan apa yang tidak ada manfaatnya dan terlebih lagi mengikuti budaya orang non muslim. Jika ingin tukar cokelat, bisa di hari lain, misalnya waktu performance day atau hari apa aja ketika kita ingat dan ada rezekinya,” aku menjelaskan dengan hati yang masih was was.

Nadine mulai mencerna dan kemudian berkata, “jadi aku bilang Edo aku tidak mau ikut-ikut valentine, aku tidak mau jadi orang valentine. Begitu kan Bunda, nanti aku tidak sama-sama Bunda kalo jadi orang valentine.”

Kemudian aku speechless. Mungkin lain kali ketika umurnya bertambah perlu ada penjelasan yang lebih baik. []

Redaktur: Wini Sulistiani

About Ummu Khadijah

Check Also

Jangan Tinggalkan Shalat

Tidak semua ibadah termasuk rukun Islam. Ini menunjukkan ibadah-ibadah yang termasuk rukun Islam adalah ibadah yang sangat penting dan urgen. Dan diantaranya adalah shalat.

Tinggalkan Balasan