Breaking News
Foto: うさぎ Usagi^Chan ちゃん

Perahu Itu Adalah Penikahan

Oleh : Kanti Rahmillah

Cinta adalah fitrah manusia. Betapa tidak, kata ini mampu mengispirasi setiap bait sang pujangga. Setiap nada sang pemetik dawai. Setiap lekukan patung sang pemahat. Setiap goresan warna sang pelukis.

Olahan cinta berbumbu rindu dan cemburu, begitu pas disantap setiap yang berdenyut. Cinta yang tak terdefinisi, membuat maknanya mampu menciptakan megahnya Taj Mahal dan indahnya Candi Prambanan.

Dalam drama, pernikahan adalah ending cerita perjalanan cinta mereka. Perjuangan mendapatkan cinta sudah selesai. Dua pasang insan, sudah bisa menikmati buah dari pahitnya perjuangan.

Sayang, drama romantis tak pernah melanjutkan kisahnya setelah pernikahan. Sang upik abu yang berubah menjadi Cinderella. Lalu menikah dengan pangeran ganteng, kaya raya. Terlanjur mendapat tempat dihati pemirsa. Sehingga tak tega dibuat lanjutannya.

Mengapa kisah cinta berhenti sampai pernikahan? benarkah pernikahan adalah akhir dari pencarian?

Awal, bukan Akhir

Pernikahan bukan akhir, tapi awal kehidupan yang nyata. Kompleksitas permasalahan yang digawangi janji suci ini, membuat kehidupan cinta tak seranum drama korea.

Kasus suami mutilasi istri di Karawang, lantaran penat dengan tuntutan istri yang bertubi-tubi. Kasus Evy, sang ibu yang tega membunuh ketiga anaknya. Depresi, lantaran suaminya menikah lagi dan tidak mengakui ketuga anaknya. Cukuplah menjadi bukti bahwa pernikahan tak berkorelasi dengan bahagia.

Tentu, pernikahan tak melulu berbicara penderitaan. Kisah Eko sang miliader, yang merawat sendiri istrinya yang lumpuh selama 25 tahun. Kisah keluarga Halilintar, dengan kesuksesan 11 anaknya. Ini adalah bukti pernikahan membawa berkah.

Perahu itu Pernikahan

Maka, pernikahan bukanlah akhir, tapi awal perahu baru berlayar. Dengan nahkoda yang baru dan penumpang yang baru. Jika nahkoda ini mempunyai tujuan dalam mengarungi luasnya samudra. Jika penumpangnya siap menjadi asisten yang memastikan sang Nahkoda berada pada jalur yang benar. Maka bagi mereka, amukan ombak adalah ujian komitmen, bukan penghancur perahu.

Bayangkan jika suami dan istri tak bisa memaknai pernikahan. Mereka menikah hanya karena satu sama lain mencinta? Wajarlah perahu itu tak akan lama berlayar. Karena Bahagia tidak ada hubungannya dengan seberapa besar pengorbananmu dalam menjemput cinta. Bahagia adalah ketika perahumu berlayar dengan gagah sampai tujuan.

Pernikahan, tentu erat kaitannya dengan tujuan hidup seseorang. Jika seseorang telah memahami bahwa tujuan hidupnya adalah untuk mencapai ridha ilahi robbi.maka syurga menanti.

Pernikahan adalah perahu menuju syurga Nya. Maka, manusia yang paham arti pernikahan, dia tak akan menjemputnya dengan kemaksiatan. Tak ada umbaran cinta berbalut syahwat tanpa akad.

Nahkoda dan penumpangnya akan menjaga diri mereka, sampai mitsaqon gholidzo itu terucap. Nahkoda dan penumpangnya akan menjaga perahu tetap dalam koridor syariatNya. Bersama sampai JannahNya.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir,” (QS Arrum ayat 21). []

About Ralda Rizmainun Farlina

Check Also

Dua Macam Kebaikan yang Harus Dipahami

kebaikan yang dilakukan untuk mendapatkan kerihdaan manusia, misalnya karena ingin mendapatkan uang, atau yang bersangkutan dengan hal duniawi tidak ada sangkut pautnya dengan urusan akhirat atau mencari Ridha dari Allah SWT, maka balasan yang akan kita dapatkan tentu saja dari manusia juga.

Tinggalkan Balasan