Breaking News
Foto: ozy.com

Untukmu yang Yakin akan Tibanya Kematian…

Membangun rumah tangga itu sejatinya di atas takwa, bahkan sebagian orang pun harus bercerai karena takwa, karena jika mereka tidak berpisah mungkin kebersamaannya justru akan mengantarkannya ke neraka disebabkan tidak menegakkan hukum Allah di dalam rumah tangganya.

Mereka yang saling mencintai, kelak pada hari kiamat akan saling bermusuhan, suami akan lari dari istrinya, anak akan lari dari orang tuanya, begitupun sebaliknya.

Tapi ada sebuah cinta yang abadi, yaitu mereka yang membangun cintanya karena Allah.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Az-Zukhruf : 67)

Untuk itu, ingatlah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” yaitu kematian.

Berapa banyak orang yang sebentar lagi akan mendapat suatu kenikmatan di dunia ini tetapi nikmat itu hilang seketika karena diputus oleh kenikmatan.

Abdullah bin Mas’ud Radiyallahu’anhu berkata, “cukuplah kematian sebagai peringatan, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan, dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan.”

Siapapun yang kita dengar telah meninggal dunia hendaknya kita ambil pelajaran darinya, karena suatu saat nama kita lah yang akan disebut dan diumumkan telah meninggal dunia.

Katika seseorang telah yakin dan ridho akan takdir Allah, maka dia akan menjadi orang paling kaya, karena dia yakin tidak akan meninggal kecuali setelah Allah memberikan seluruh rezekinya di dunia ini.

Allah telah memberikan modal hidup kepada setiap manusia 24 jam dalam sehari, tinggal masing-masing kita akan mengisinya dengan apa, apakah akan diisi dengan bacaan al-qur’an, sholat, ataupun dzikir.

Seorang tabi’in bernama Hammad bin Salamah jika dikatakan kepadanya besok akan meninggal dunia maka dia tidak dapat menambah sedikitpun rutinitas amal ibadahnya, karena waktunya telah padat dengan ibadah, tidak akan didapati hari-hari beliau kecuali sedang baca Al-Qur’an, dzikir, sholat atau amal shalih lainnya. Tidak ada baginya waktu untuk nongkrong bermain-main.

Berbeda dengan kita yang lebih banyak waktu luangnya terbuang sia-sia untuk nongkrong, main game, dan hal-hal tidak bermanfaat lainnya.

Sejatinya seorang muslim itu tidak mengenal kata libur, sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ

”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Q.S. Al-Insyirah: 7)

Sebagaimana para santri jika telah belajar di pondok maka ketika pulang liburan ke rumah hendaklah dia mengajar. Dan seorang pekerja jika hari libur kerja maka hendaklah ia sempatkan untuk hadir di pengajian.

Tapi bagamaina mungkin hati kita akan merasa senang jika tidak melakukan hal-hal yang bersifat hiburan?

Orang yang ingat kematian justru akan mengurangi kegiatan-kegiatan yang bersifat hiburan, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Jika kalian tau apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Sudahkah kita mengingat akan datangnya kematian wahai shalihah? []

 

Sumber: syafiqrizabasalamah

About Ummu

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Jangan Tinggalkan Shalat

Tidak semua ibadah termasuk rukun Islam. Ini menunjukkan ibadah-ibadah yang termasuk rukun Islam adalah ibadah yang sangat penting dan urgen. Dan diantaranya adalah shalat.

Tinggalkan Balasan