Breaking News
Foto; Wondershare PDFelement

Ayah Jangan Sia-Siakan …

 

Hari ini anak-anak kecil itu mungkin sedikit menyusahkan. Sebentar-sebentar menangis, berantem dengan saudaranya, merengek meminta sesuatu, sulit di atur. Tapi mereka tak akan kecil selamanya. Waktu terus berjalan, tanpa kita sadari mereka akan beranjak remaja, kemudian dewasa.

Besar harapan kita pada anak-anak bukan? Menjadi anak yang berguna, berbakti pada orang tua dan menjadi anak shalih. Anak yang shalih akan menjadi penyejuk pandangan mata orang tuanya, membuat senang hati orang tuanya.

Lalu apakah yang telah di lakukan para ayah dalam mendidik anak-anaknya. Bukan ibu saja yang memiliki tugas sebagai pendidik, tetapi justru tanggung jawab itu ada pada ayah, sang pemimpin keluarga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ” (QS At-Tahrim : 6)

Ayat di atas ditujukan bagi para pemimpin keluarga orang-orang beriman. Pelihara dirimu dan keluargamu, menunjukkan bahwa ini adalah peringatan bagi para pemimpin keluarga, yaitu ayah.

Jika para ayah merasa setelah memberikan nafkah yang berupa materi sudah cukup, maka mari renungkan kembali. Kini saat anak-anak masih kecil, apakah hanya materi yang di butuhkannya? Apakah dengan segala mainan, makanan, bahkan hingga gadget pun engkau penuhi mereka tidak membutuhkan kehadiranmu, ungkapan dan sentuhan kasih sayangmu?

Lihatlah ketika engkau berada di rumah, anak-anak itu akan ribut mencari perhatianmu. Mereka ingin memainkan semua mainan yang engkau belikan bersama mereka. Mereka berebut menceritakan segala hal yang menurut mereka menarik. Mereka lebih ingin bersama ayahnya, mereka ingin meniru ayahnya.

Jika sebagai ayah absen membersamai mereka, terlebih tidak turut serta dalam mendidik ruhiyah mereka, lalu bagaimana kelak di akhirat nanti. Apakah justru nanti ayah yang akan menjadi penyebab seluruh keluarga masuk dalam neraka? Naudzubillah.

Ayah, jangan sia-siakan… Masa kecil mereka adalah pintu gerbang dari serangkaian proses yang akan di jalani tuk menggapai harapakan kita terhadap anak-anak. Berlelah-lelah mencari nafkah belum menggugurkan kewajiban untuk mendidik anak-anak. Telah banyak contoh nyata anak-anak yang sejak kecil di rawat, di jaga kemudian setelah dewasa justru tidak dapat membalas budi. Anak yang menuntut harta warisan, sementara orang tua masih hidup. Anak yang tega membunuh dan juga kasus-kasus lain yang justru memperlihatkan kedurhakaan anak.

Tidak dapat kita menyalahkan si anak yang belum juga memasuki usia baligh. Kitalah yang harus bermuhasabah. Sudah kah kita mengenalkan anak pada pencipta-Nya, sudahkah kita memberinya teladan dalam ibadah dan akhlak, sudahkah kita mengisi jiwa mereka dengan kasih sayang sehingga kelak mereka pun akan membalasnya dengan bakti mereka.

Ayah jangan sia-siakan… Luangkan waktumu untuk sekedar mendengarkan cerita anak-anak. Berikan waktumu untuk menceritakan kisah keagungan Rasulullah. Ajak serta anak-anakmu ke mesjid dan taklim. []

Redaktur: Wini Sulistiani

About Ummu Khadijah

Check Also

7 Tanda Suami Punya Selingkuhan

Suami dinyatakan selingkuh bukan sekadar karena kamu sebagai istri merasa ia berbeda. Harus ada bukti nyata sampai seorang istri bisa mengatakan suaminya berselingkuh.

Tinggalkan Balasan