Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Jangan Jadi Orang Tua Sumbu Pendek!

0

“Mau jadi apa kamu, di suruh mengerjakan soal ini satu saja tidak becus.”

“Dari tadi ternyata kamu disini dan mengacak-acak kerjaan ayah, mencorek-coretnya, pergi kamu sebelum ayah cubit.”

Kata-kata penuh amarah itu tidak hanya meluncur ringan, tapi dengan nada tinggi suara barito atau entah sofran yang menggelegar dan belum disertai mata yang membelalak. Hal ini mungkin pernah kita alami saat kecil atau justru sekarang terulang dengan kita yang berada pada posisi yang memarahi.

Bayangkan kita yang waktu menjadi objek yang dimarahi, maka kita melihat orang tua kita berubah seperti monster yang akan menelan kita. Belum lagi jika kemudian amarah itu terus berlanjut tiada henti selama lima menit. Ini rasanya adalah bagai satu jam.

Inikah cara memarahi anak yang tepat, sehingga anak akan jera dan tidak mengulanginya? Apa yang kemudian kita lihat, mata polos anak yang berkaca-kaca, dan entah apakah ia mengerti bahwa ia telah berbuat kesalahan. Sementara mungkin yang ada dibenaknya, “mengapa aku dimarahi?” “Sungguh aku tidak mengerti dengan soal ini.” “Aku ingin seperti kakak, seperti ayah, membuat tulisan di kertas.”

Marah dan memarahi adalah dua hal yang berbeda. Memarahi anak diperbolehkan jika memang diperlukan. Memarahi sebagai bentuk hukuman tidak harus dalam kondisi marah. Meski yang sering terjadi adalah memarahi dengan kondisi emosi yang meluap-luap kesal dan pikiran keruh. Ternyata memarahi bisa kita lakukan dengan kondisi emosi yang terkontrol, jernih dan tenang.

Orang tua yang kerap kali memarahi dengan penuh emosi biasanya mengalami hal-hal buruk atau mendapatkan perlakuan yang sama ketika kecil. Mereka cepat sekali tersulut emosinya karena ada hal-hal yang tidak disukai pada anak atau anak melakukan kesalahan. Mereka cepat sekali bereaksi dengan amarah, atau bahkan juga dengan cubitan dan kata-kata kasar begitu anak melakukan kesalahan, meski itu adalah kesalahan kecil atau hal yang bukan tidak bisa diperbaiki. Inilah orang tua sumbu pendek, sehingga cepat terbakar tanpa sempat berpikir.

Sebagian orang tua sumbu pendek menganggap tindakan yang keras, mudah meledak dan reaktif sebagai pilihan terbaik untuk memberi pelajaran pada anak. Memarahi habis-habisan, mencubit tanpa memberikan penjelasan dimana letak kesalahan si anak. Karena ketika memarahi dengan emosi yang keluar adalah umpatan dan hal-hal negatif pada anak. Sementara anak belum paham apa yang membuatnya salah.

Padahal ada kaidah yang mengatakan, “Qubhunal ‘iqab bila bayan,” adalah buruk menyiksa (menghukum) tanpa memberi penjelasan. Menghukum dengan memberi penjelasan bukan berarti memukuli atau membentak-bentak sambil meluncur kata-kata, “Bodoh, Awas kalau di ulangi!” “Sekali lagi berbuat itu, Mama cubit ya.”

Menghukum dengan memberi penjelasan berarti kita menunjukkan kepada anak apa yang baik dan apa yang sepatutnya dilakukan dan kemudian menunjukkan apa yang tidak baik. Tunjukkan pada anak apa konsekuensinya jika mengerjakan hal-hal yang buruk dan salah. Jika kita perlu marah, maka lakukan dengan lembut namun tegas tentang kesalahan yang telah dia lakukan. Kita memberi penjelasan apa kesalahannya, bukan memarahi bertubi-tubi seperti serangan. Berikan hukuman yang sesuai dengan kesalahan dan yang dapat membuatnya jera.

“Kamu baru saja melakukan kesalahan, mencoret-coret kertas tanpa meminta izin.”

“Jika guru tengan memberi pelajaran, perhatikanlah dengan baik, sehingga kamu dapat mengerjakan PR-nya.”

Memarahi dengan luapan emosi dan menyerangnya bertubi-tubi serta penuh ancaman dan reaktif, tidak akan membuat anak menjadi baik. Lebih-lebih jika emosi mudah tersulut alias sumbu pendek, anak justru menjadi belajar bagaimana membuat orang tuanya marah. Hal ini akan dia gunakan saat anak merasa kesal, inilah yang disebut negativisme.

Usahakanlah berpikir positif dan jernih meski anak sering kali melakukan kesalahan. Ingatlah pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, “La Taghdhab!” Jangan Marah. Selama anak bukan melakukan kesalahan yang melanggar syariat dan belum aqil baligh maka kesalahannya adalah kesalahan kecil yang dapat diperbaiki. Allah saja tidak menghitung dosa pada anak yang belum aqil baligh, maka kemarahan yang kita tunjukkan pun sebaiknya masih dalam kelembutan bukan emosi amarah. []

Sumber : Saat Berharga Untuk Anak Kita, Mohammad Fauzil Adhim, Pro-U Media
Redaktur: Wini Sulistiani



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline