Breaking News
Foto: pausethemoment.com

Kala Penghasilan Istri Lebih Besar daripada Suami

 

Saat ini banyak wanita-wanita karir yang memiliki pekerjaan sangat baik, bahkan lebih baik dari suaminya. Tidak jarang kita pun mendengar suami kita memiliki atasan seorang perempuan. Idealnya jika istri memiliki jabatan sebagai manager maka suami pun memiliki jabatan yang sama atau lebih tinggi. Namun, terkadang yang terjadi justru sebaliknya.

Kondisi ekonomi dimana seharusnya suami yang memegang peranan dalam membiayai dan menafkahi semua keperluan rumah tangga, tetapi kemudian diambil porsi terbesarnya oleh isteri. Tak jarang karena hal ini pula isteri kemudian seperti menjadi lebih superior. Tentu hal ini bukan kondisi rumah tangga yang sehat.

Masalah ekonomi tak jarang menjadi pemicu perceraian. Banyak kasus gugatan cerai karena suami tidak memberikan nafkah kebutuhan hidup. Lalu, bagaimanakah harus bersikap dalam kondisi seperti tersebut?

Jika kita berada pada posisi isteri yang memiliki penghasilan lebih besar dari suami, maka ingatlah peran kita tetap sebagai isteri. Kelebihan ekonomi tidak lantas menggeser peran kita menjadi suami dan pemimpin dalam keluarga. Saat Nabi Muhammad menikahi Khadijah, Khadijah adalah seorang wanita kaya dan pengusaha. Nabi Muhammad yang sebelum menikah dengan khadijah justru yang bekerja untuk membawa barang-barang Khadijah untuk diperdagangkan ke negeri syam. Namun, hal ini tidak lantas menjadikan Khadijah merasa superior justru sebaliknya Khadijah adalah isteri yang dapat menjaga wibawa suaminya.

Lalu bagaimana, suami kan berkewajiban memenuhi nafkah keluarga. Suami seharusnya memberikan rumah, pakaian dan makanan pada keluarganya. Bagaimana jika hal itu tidak di penuhi oleh suami. Dalam hal ini, mari kita kembalikan pada Alquran dan sunnah.

Allah berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Orang yang mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kemampuan yang Allah berikan kepadanya. Allah, kelak, akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Q.S. Ath-Thalaq:7)

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa orang yang disempitkan rezekinya hendaknya memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah padanya. Jadi meski penghasilan suami tidak besar, tetap Allah perintahkan untuk memberikan nafkah pada keluarganya. Allah tidak memberikan beban di luar batas kemampuan. Dari ayat ini juga tersirat bahwa Allah tetap memberikan rezekinya pada setiap orang dan Ia pun menjanjikan bahwa sesudah kesempitan ada kelapangan.

Mari kita bertanya pada diri masing-masing nafkah suami yang tidak mencukupi atau gaya hidup kita yang terlalu besar biayanya. Sebenarnya, permasalahannya bisa kita paksa untuk disederhanakan. Ketika kita menyadari bahwa penghasilan suami belum cukup untuk mewujudkan konsep “hidup bahagia” yang ideal menurut Anda, segera ambil tindakan skala prioritas. Tidak semua keinginan Anda bisa terpenuhi dengan gaji Suami. Dahulukan yang paling penting, kemudian yang penting. Kebutuhan yang sekiranya bisa ditahan, mungkin belum saatnya diwujudkan sekarang. Bersabarlah, perbanyak memohon–kepada Allah–kemudahan hidup.

Sebagai isteri memang tidak ada kewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga, namun jika hal itu kita lakukan, maka itu bernilai sedekah bagi kita. Berdiskusilah dan bicarakanlah bagaimana mengatur keuangan keluarga. Jika kita yang memiliki porsi yang lebih banyak dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga dan keluarga, janganlah diungkit terus menerus dan berkata dengan kata-kata yang menyakitkan. Penghasilan isteri bagi suami dan keluarga adalah sedekah, jika kita mengungkit tentu akan mengurangi nilai keikhlasan dan pahala yang kita dapat.

Memang akan terasa sulit jika kita berpikir mengapa suami penghasilannya sedikit, mengapa pekerjaan suami tidak sebaik yang kita miliki. Ubahlah cara pandang kita, karena masalah rezeki Allahlah yang mengaturnya. Fokuslah pada memperbaiki diri dan menjalankan kewajiban kita sebagai seorang isteri juga ibu bagi anak-anak kita. Karena hal tersebulah yang kelak akan dimintai pertanggung-jawaban dari kita. []

Sumber ://pengusahamuslim.com/
Redaktur: Wini Sulistiani

About Ummu Khadijah

Check Also

7 Tanda Suami Punya Selingkuhan

Suami dinyatakan selingkuh bukan sekadar karena kamu sebagai istri merasa ia berbeda. Harus ada bukti nyata sampai seorang istri bisa mengatakan suaminya berselingkuh.

Tinggalkan Balasan