Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Sudahkah Menempatkan Cinta pada Tempatnya?

0

Ada kalanya ketika kita kehilangan seseorang, kita merasa kecewa karena telah mencintai seseorang tersebut. Itulah sebuah kesalahan ketika cinta tidak ditempatkan dan tidak diukur sebagaimana mestinya.

Memang ketika sudah begitu, perasaan cinta sulit untuk dihilangkan begitu saja. Manusia membutuhkan proses dan tahapan untuk bisa menghilangkannya, tidak bisa langsung atau sekejap saja. Untuk itu, dalam masalah cinta manusia harus mampu menempatkannya secara benar, memulai dari membangun paradigma cinta yang benar sesuai islam dan juga sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sadarilah hal berikut ini sebelum Anda menyesal karena menempatkan cinta dengan salah.

1. Menempatkan Allah Sebagai Cinta Tertinggi

Allah Rabbul ‘Alamiin adalah Yang Menciptakan segala sesuatu. Agar bisa menempatkan cinta secara benar maka kita harus menempatkan Allah terlebih dahulu sebagai cinta yang tertinggi. Cinta Allah jika ditempatkan paling atas dan di atas segala-galanya akan memudahkan kita menyadari bahwa cinta manusia tidak akan ada apa-apanya.

Secara umum, hidup kita menginginkan cinta yang berefek pada ketentraman dan kesejahteraan hidup manusia. Bisa kita bayangkan jika cinta Allah dicabut dan tidak lagi diberikan, maka Manusia akan sengsara dan kesulitan hidup di dunia.

Nikmat usia, nikmat air, waktu, udara dan lain sebagainya adalah bentuk kecintaan Allah pada manusia. Andai kan Allah tidak mencintai makhluknya dan hambanya, tentu kenikmatan tersebut akan dicabut oleh Allah dan manusia tidak akan pernah tahu kemana harus mencari kembali nikmat-nikmat tersebut selain dari-Nya.

2. Menyadari Bahwa Manusia adalah Makhluk Allah yang Lemah

Untuk bisa menempatkan cinta lagi secara benar, tentu kita harus menyadari bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia bisa salah dan keliru serta bisa menyimpang. Untuk itu, kecintaan terhadap manusia tidak bisa dijadikan patokan apalagi sebagai standar yang ditempatkan paling tinggi.

Manusia dan sesama manusia memiliki kelemahan. Jika cinta berlebihan terhadap manusia tentunya kita akan kecewa karena manusia akan selalu memiliki kekurangan yang bisa jadi tidak memuaskan hidup kita. Untuk itu banyak sekali orang-orang yang putus asa, bunuh diri, bahkan melanggar perintah Allah hanya gara-gara persoalan cinta terhadap manusia yang berlebihan.

Hal ini juga disampaikan Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya),

“Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS Ar-Rum : 54)

3. Menyadari Hakikat Kebahagiaan Dunia yang Sementara

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.“ (QS Al Jatsiyah : 24)

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa suatu saat dunia akan selesai dan manusia kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan dan mendapatkan balasan di akhirat. Untuk itu, cinta kepada manusia juga tidak akan lama. Ia akan sebatas dari kebahagiaan dunia saja.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.“ (QS Hud : 11)

Loading...

Untuk itu, cinta kepada manusia juga sebatas perhiasan dunia yang sementara. Selagi perhiasan tersebut ada, maka manusia bisa merasakannya. Akan tetapi, hakikat manusia memiliki rasa bosan dan netral jika berlebihan suatu saat pun bisa berbalik. Untuk itu, hendaklah mencintai dan menempatkan manusia pada cinta dan kebahagiaan yang biasa saja.

4. Mengalihkan Perasaan Pada Hal-hal yang Lebih Produktif

Untuk bisa proporsional dan tidak terus-terus mengingat cinta manusia yang tidak seharusnya, maka hendaklah kita melakukan aktifitas produktif yang bisa membuat kita lebih fokus pada kegiatan tersebut ketimbang harus selalu mengingat, apalagi cinta yang dilarang atau tidak halal bukan karena ikatan pernikahan.

Batasi komunikasi, perbanyak aktifitas produktif adalah hal yang bisa mengalihkan kita agar tak selalu mengingat dan memikirkan cinta tersebut. Bagi yang ingin menikah dan juga sedang membina keluarga aktifitas produktif bisa juga dengan terus belajar memperdalam ilmu agama ini, karena agama adalah pondasi utama seorang mukmin.

Demikian semoga bermanfaat ya shalihah. []

 

Sumber: Dalamislam



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline