Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Sejauh Mana Bolehnya Melihat Wanita yang Akan Dipinang?

0

Islam sungguh agama yang memuliakan seorang wanita. Kewajiban bagi seorang muslimah untuk menutup aurat tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjaga kesuciaan dan kemuliaan dirinya.

Selain itu, islam juga datang dengan membawa perintah untuk menundukkan pandangan dan melarang dari melihat wanita ajnabi (bukan mahram)sebagai bentuk penyucian terhadap jiwa dan perlindungan terhadap kehormatan manusia.

Akan tetapi, dalam syariat ini dikecualikan beberapa keadaan di mana ketika itu dibolehkan seorang pria melihat wanita ajnabi karena darurat atau adanya kebutuhan yang sangat penting. Di antaranya yaitu tatkala seorang peminang melihat wanita pinangannya. Sebab, dari sinilah diambil keputusan penting terkait kehidupan pria dan wanita itu kelak.

Di antara nash yang menunjukkan akan bolehnya melihat wanita pinangan adalah berikut ini:

1. Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian meminang seorang wanita, kalau memang ia mampu melihat dari wanita tersebut apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah. ” Jabir pun berkata, “Aku pun meminang seorang wanita. Aku bersembunyi darinya, hingga aku bisa melihat darinya apa yang membuatku tertarik untuk menikahinya dan akhirnya aku pun menikahinya. “

Dalam riwayat lain: “Yaitu seorang wanita dari Bani Salamah. Aku sembunyi darinya di bawah Karb hingga aku bisa melihat darinya apa yang membuatku tertarik untuk menikahinya, lalu aku pun menikahinya. ” (Shahih Abi Daud no. 1832 dan 1834)

2. Dari Abu Hurairah ia berkata, “Aku ada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba seseorang datang kepada beliau mengabarkan bahwa ia ingin menikahi seorang wanita Anshar. Beliau bertanya kepadanya, ‘Apakah engkau sudah melihat wanita yang ingin kau nikahi? ” Orang itu menjawab, “Belum.” Beliau pun bersabda, “Pergilah dan lihatlah wanita itu. karena sesungguhnya pada mata orang-orang Anshar ada sesuatu. ” (HR. Muslim no. 1424 dan Ad-Daruquthni 3/253(24)

3. Dari Mughirah bin Syu’bah ia berkata, “Aku melamar seorang wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘Apakah engkau sudah melihatnya?‘ Aku jawab, “Belum” Beliau pun bersabda, “Lihatlah ia karena sesungguhnya itu lebih melanggengkan di antara kalian berdua.”

Dalam riwayat lain Mughirah menjelaskan bahwa ia melakukan yang demikian dan menikahi wanita itu lalu menyebutkan kecocokan dengannya. (HR. Ad-Daruquthni: 3/252 (31, 32) dan Ibnu Majah: 1/574)

4. Dari Sahl bin Sa’d ia berkata, “Sesungguhnya seorang wanita mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku datang ingin menawarkan diriku untukmu. ‘ Rasulullah pun melihatnya lalu mengangkat dan menundukkan pandangan kemudian menundukkan kepala beliau. Tatkala wanita itu mengetahui bahwa beliau tidak menyukainya, ia pun duduk. Tiba-tiba berdirilah seorang sahabat lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, kalau memang engkau tidak menginginkannya, maka nikahkanlah aku dengannya…” (HR. Bukhari: 7/19 dan Muslim: 4/143 dan An-Nasai: 6/113 dengan Syarh Suyuthi dan Al-Baihaqi: 7/84)

Beberapa pendapat para ulama tentang batasan memandang kepada pinangan yang diperbolehkan:

Berkata Imam Asy-Syafi’i  rahimahullah, “Jika seseorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka ia tidak boleh melihat wanita tersebut dalam keadaan terbuka kepala dan lengannya. Ia boleh melihat wajah dan kedua telapak tangannya dalam keadaan tertutup baik itu dengan izinnya maupun tidak. Allah Ta’ala berfirman: {Dan janganlah mereka (para wanita)menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya} maksudnya yaitu, “Wajah dan kedua telapak tangan.” (Al-Hawi Al-Kabir: 9/34)

Berkata Imam An-Nawawi dalam Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin (7/19-20): “Jika seorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka mustahab (sunnah)untuk melihatnya agar tidak menyesal. Ada pendapat lain yaitu bukan sunnah melihat di sini melainkan hanya mubah. Namun yang benar adalah pendapat pertama berdasarkan berbagai hadits. Dan boleh mengulang melihat di sini baik dengan izin wanita tersebut maupun tidak. Jika tidak mudah untuk melihat wanita tersebut, maka boleh mengutus seorang wanita untuk memperhatikan wanita tersebut dan menggambarkannya untuknya. Dan seorang wanita boleh melihat kepada pria jika ia ingin menikah dengannya. Karena sesungguhnya seorang wanita tertarik kepada seorang pria sebagaimana seorang pria tertarik kepada seorang wanita.  Kemudian yang boleh dilihat darinya yaitu wajah dan dua telapak tangan yang luar maupun dalam. Dan tidak boleh melihat kepada selain itu.”

Dan Abu Hanifah berpendapat boleh melihat kedua telapak kaki beserta wajah dan dua telapak tangan. (Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid: 3/10)

Berkata Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya (5/325): “Boleh melihat ke wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki dan tidak boleh lebih dari itu.” dan itu telah dinukilkan oleh Ibnu Rusyd sebagaimana telah berlalu.

Beberapa riwayat/pendapat dari Madzhab Imam Malik:

Loading...

– riwayat/pendapat yang menyatakan bolehnya melihat wajah dan dua telapak tangan saja.

– riwayat/pendapat yang menyatakan bolehnya melihat wajah, dua telapak tangan dan dua lengannya saja.

Dari Imam Ahmad rahimahullah terdapat beberapa riwayat:

– yang pertama: bolehnya melihat wajah dan dua lengannya.

– yang kedua: bolehnya melihat sesuatu yang biasanya tampak seperti leher, betis dan semacamnya.

Dan itu dinukilkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (7/454) dan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam Tahdzib As-Sunan (3/25-26) dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/78).

Dan riwayat yang jadi rujukan dalam kitab-kitab Madzhab Hanbali adalah riwayat kedua.

Dari penjelasan sebelumnya jelaslah bahwa pendapat mayoritas ulama adalah bolehnya seorang peminang melihat wajah dan kedua telapak tangan pinangannya, karena wajah menunjukkan jelek atau cantiknya seseorang sedangkan kedua telapak tangan menunjukkan kurus atau suburnya badannya.

Berkata Abul Faraj Al-Maqdisi, “Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama akan bolehnya melihat kepada wajah seorang pinangan… tempat berkumpulnya keindahan dan tempat untuk dilihat. “

Hukum menyentuh pinangan dan berduaan dengannya

Berkata Az-Zailai rahimahullah, “Tidak boleh seorang peminang menyentuh wajah dan kedua telapak tangan pinangannya-walaupun aman dari syahwat-disebabkan adanya larangan akan hal tersebut dan tidak adanya perkara yang mendesak untuk melakukan itu.” dan di Durar Al-Bihar, “Tidak boleh seorang hakim, saksi dan peminang menyentuh seorang wanita walaupun mereka merasa aman dari syahwat dikarenakan tidak adanya kebutuhan untuk melakukan itu…” (Radd Al-Muhtar ‘Ala Ad-Dur Al-Mukhtar: 5/237)

Berkata Ibnu Qudamah, “Tidak boleh baginya untuk berdua dengan pinangannya karena itu diharamkan. Dan tidak ada dalam syariat pembolehan selain melihat karena itu hukumnya tetap haram. Sebab, dengan berduaan juga tidak aman dari terjatuh kepada perbuatan yang diharamkan (yaitu zina). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidaklah seorang pria berduaan dengan seorang wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan. Dan tidak boleh pula baginya melihat pinangannya dengan pandangan syahwat untuk bersenang-senang tanpa ada kebutuhan. Berkata Ahmad dalam riwayat Shalih, ‘Boleh melihat ke wajah akan tetapi bukan dengan pandangan bersenang-senang (syahwat). Dan boleh baginya mengulangi pandangan kepadanya dan mengamati kecantikannya. Sebab, tujuan mendapatkan pasangan tidaklah tercapai kecuali dengan cara demikian. “

Kalau begitu, dalam hal melihat wanita pinangan: boleh melihat orang yang akan dipinang walaupun itu tanpa izin dan sepengetahuan darinya. Dan ini adalah perkara yang ditunjukkan oleh beberapa hadits shahih.

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/158): “Mayoritas ulama berpendapat bolehnya memandang wanita  tanpa izin darinya jika memang ingin meminangnya.“

Berkata Syaikh Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah (1/156)menguatkan pendapat tadi: “Yang semisal itu adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam suatu hadits: “Walaupun wanita itu tidak mengetahuinya.” dan itu dikuatkan dengan praktek para sahabat. Amalan mereka beserta sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka yaitu Muhammad bin Maslamah dan Jabir bin Abdillah. Karena, keduanya bersembunyi dari wanita pinangan mereka agar bisa melihat dari wanita pinangan mereka apa yang membuat keduanya tertarik untuk menikahi mereka…”

Faidah:

Berkata Syaikh Al-Albani dalam sumber yang lalu hal. 156: “Dari Anas bin Malik rahimahullah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menikahi seorang wanita. Maka beliau pun mengutus seorang wanita untuk melihatnya. Beliau bersabda, ‘Ciumlah aroma mulutnya dan lihatlah kedua Urqub (urat besar di atas tumit)nya.” (HR. Al-Hakim: 2/166 dan Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim.” Dan itu disepakati oleh Adz-Dzahabi dan juga dari Al-Baihaqi (7/87) dan berkata dalam Majma’ Az-Zawaid (4/507): “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bazzar dan perawi dalam riwayat Ahmad terpercaya.“

Disebutkan dalam Mughni Al-Muhtaj (3/128): “Dari hadits ini bisa dipetik faidah yaitu bahwa seorang utusan boleh menggambarkan kepada orang yang mengutus tentang pinangannya lebih dari apa yang ia lihat. Sehingga , dengan begitu orang  yang mengutus  bisa mengambil faidah dari pengutusan tersebut apa yang tidak bisa ia dapatkan seandainya melihatnya sendiri.“

Demikian semoga bermanfaat ya shalihah. []

 

Sumber: Islamqa



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline