Breaking News
Foto: Daarut Tauhiid

Mariyah Qibtiyah, Istri Rasulullah yang Alim

Salah seorang istri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa salam, Mariyah Qibtiyah, begitu dimuliakan karena kesabaran dan ketegarannya dalam menghadapi setiap ujian yang diterimanya. Mariyah juga merupakan hamba yang istimewa. Selain karena ia terlahir dengan kesempurnaan lahir maupun batin, ia juga merupakan seorang ahli ibadah yang ketaatannya tidak diragukan lagi.

Selain sebagai seorang ahli ibadah, Mariyah juga merupkan sosok yang alim. Dalam kitab Al-Farasat termaktub, “Terdapat nama-nama kitab yang ditulis oleh sejumlah ahli hikmah yang kebenarannya telah kami teliti. Bahkan dikuatkan juga oleh penelitian orang-orang yang terpercaya (tsiqah). Hasil penelitian tersebut ditulis dalam kitab-kitab mereka. Jika kita perhatikan, di antara sejumlah kandungan sejumlah kitab tersebut, terdapat pembahasan yang betajuk, kitab Mariyah al-Qibtiyah Ma’a al-Hukama Hina Ijtama’u Ilaiha, yang artinya Mariyah al-Qibtiyah, ketika para ahli hikmah berkumpul (dan berbagi ilmu) dengannya.”

Kitab yang betajuk Mariyah a-Qibtiyah Ma’a al-Hukama Hina Ijtama’u Ilaiha menjadi bukti keluasan ilmu Mariyah Qibtiyah. Ternyata, ia memang bukan seorang hamba sahaya biasa. Pengetahuannya luas, dan ia menggunakan pengetahuannya dalam setiap bertindak dan berucap. Mariyah Qibtiyah tidak suka bertindak dan berucap sesuatu yang tidak ada guna. Inilah ciri-ciri seseorang yang berilmu atau alim.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa salam begitu memuliakan kedudukan seorang hamba Mariyah Qibtiyah. Hak-haknya senantiasa dipenuhi dengan sempurna. Beliau selalu memperlakukan Mariyah Qibtiyah dengan sempurna. Beliau selalu memperlakukan Mariyah Qibtiyah dengan baik, sebagaimana perlakuan beliau terhadap para istri yang lain.

Padahal, pada mulanya, Mariyah Qibtiyah hanyalah seorang budak. Namun, status tersebut sama sekali tidak menyebabkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa salam meremehkan, apalagi menganggap sebelah mata keberadaanya. Sebaliknya, justru Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa salam sangat menghormati dan menghargainya.

Bahkan, sebelum sallallahu ‘alaihi wa salam wafat, beliau sempat berwasiat, “Sesungguhnya, setelah aku wafat, Allah SWT akan membebaskan Negeri Mesir untuk kalian. Dengan begitu, perlakukanlah suku Qibti dengan baik. Sebab, mereka memiliki ikatan besar denganku, serta mempunyai jaminan kehormatan.” []

 

Sumber: Perempuan-perempuan Surga/ Imron Mustofa/ Penerbit: Laksana/ Yogyakarta: 2017

About Mila Zahir

Check Also

Anak Gembala yang Amanah

“Hei anak muda, engkau berpuasa di hari yang panas sambil menggembala pula?”

Tinggalkan Balasan