Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Meneladani Ketegaran Mariyah Qibtiyah

0

Namanya Mariyah Qibtiyah, ia adalah seorang budak dari kalangan Kristen Koptik, yang kemudian dimerdekakan dan dinikahi oleh Rasulullah SAW. Tak banyak yang diketahui orang soal nasabnya selain sang ayah, Syama’un yang berasal dari Suku Qibti, dan Ibunya yang seorang penganut agama Masehi Romawi.

Atas izin Allah, Mariyah Qibtiyah yang terlahir dengan kesempurnaan lahir dan batin ini, berkesempatan melahirkan seorang putra Rasulullah SAW. Dialah satu-satunya istri Rasul yang melahirkan anak selain dari Sayyidah Khadijah.

Hal ini tak pelak menimbulkan kecemburuan bagi para istri Rasulullah yang lain. Sebabnya, banyak di antara mereka yang sudah menikah lebih lama dengan Rasul, akan tetapi belum jua dikaruniai keturunan.

Pada bulan Dhuhijjah tahun ke delapan Hijrah, Mariyah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Ibrahim. Betapa bahagianya Rasulullah atas kelahiran puteranya ini, terlebih belum lama beliau telah ditinggal pergi anak-anak terkasihnya, yakni Abdullah, Qasim, dan Ruqayah yang meninggal dunia.

Kelahiran Ibrahim disambut gembira oleh seluruh kaum Muslimin saat itu. Karena begitu gembira, Rasulullah SAW pun memerdekakan Mariyah Qibtiyah sepenuhnya.

Akan tetapi, tidak semua orang senang atas kelahiran bayi ini. Beberapa orang dari golongan munafik sangat benci melihat kebahagiaan Rasulullah SAW. Maka merekapun menyebar fitnah bahwa anak yang dilahirkan Mariyah Qibtiyah adalah hasil perbuatan serongnya dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir, dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah.

Setelah menyebarnya fitnah ini, Mariyah sungguh terluka dan sedih. Namun ia berusah tegar dan kuat. Allah SWT pun akhirnya membuka kebenaran bagi Mariyah. Hal ini terjadi setelah Ali bin Abi Thalib menemui Maburi. Maburi menuturkan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.

Atas kejadian ini, Mariyah sadar, sebagai istri seorang nabi, ia tidak akan bisa menghindar dari fitnah orang-orang yang selalu menentang ajaran suaminya. Ia sadar bahwa ia harus selalu kuat dan tegar menghadapi segala gunjingan dan fitnah yang menimpanya.

Berkat ketegarannya, fitnah yang dituduhkan kepadanya ini tidak berlangsung lama. Setelah kebenaran terkuak, keadaan menjadi tenang kembali.

Sayangnya, kegembiraan Rasulullah SAW atas kelahiran Ibrahim ini tidak berlangsung lama. Sebab, saat usia Ibrahim menginjak sembilan belas bulan, ia menderita penyakit yang cukup parah.

Semakin hari, keadaan Ibrahim semakin memburuk, Mariyah Qibtiyah pun selalu menunggui dan menjaga Ibrahim bersama Sirin. Hingga suatu malam, saat keadaan Ibrahim sangat buruk, Rasulullah SAW bersama Abdurrahman bin Auf mendatangi rumah Mariyah Qibtiyah.

Ketika Ibrahim tengah dalam kondisi sekarat, Rasulullah SAW bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.

Seketika, berlinanglah air mata Rasulullah SAW. Saat Ibrahim benar-benar meninggal dunia, beliau kembali bersabda,”Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang Haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim. Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.

Begitulah Rasulullah menyikapi kepergian putranya, walaupun beliau sedang merasakan kesedihan yang mendalam. Beliau menempatkan dirinya pada kesedihan yang wajar, sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar.

Mariyah Qibtiyah sebagai ibu Ibrahim pun mengalami hal yang serupa. Hatinya sedih dan terluka. Betapa tidak, anak yang dicintainya begitu cepat pergi menghadap Allah SWT. Namun atas bimbingan Rasulullah SAW, Mariyah berusaha untuk tidak tenggelam dalam kesedihan dengan secara berlebihan.

Mariyah terus tegar dan bersabar. Ia sadar bahwa tak ada sesuatu pun yang kekal di dunia. Kesabaran dan ketegarannya ini menjadikan ia semakin tinggi martabat kemanusiaannya di mata Allah SWT.

Loading...

Pun bagi Rasulullah SAW, Mariyah Qibtiyah adalah keistimewaan yang luar biasa. Beliau, SAW, semakin menyayangi dan mengasihi Mariyah Qibtiyah. Sebab istrinya itu bukanlah seorang yang rapuh dan mudah mengeluh.

Kesabaran dan ketegaran Mariyah Qibtiyah semakin teruji ketika sang suami, Rasulullah SAW akhirnya wafat. Semua istri Rasulullah SAW sudah jelas sedih atas kepergian Nabi yang Mulia, termasuk juga Mariyah.

Akan tetapi, Mariyah menahan dirinya agar tidak menangis hingga meraung-raung, walaupun ia tengah dilanda kesedihan yang mendalam. Rasulullah SAW telah mengajarkannya untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan gejolak emosi yang lain. Ia tahu hal itu hanya membuatnya gelap mata dan akan mudah dikuasai setan.  Mariyah Qibtiyah pun mengikhlaskan kepergian Rasulullah SAW.

Sejak kepergian Rasulullah SAW, beban  hidup Mariyah Qibtiyah ditanggung Oleh Abu Bakar. Setelah itu dilanjutkan oleh Umar bin Khattab. Kedua Khalifah itu bersedia menanggung hidup Mariyah Qibtiyah. Sebabnya, bagi mereka Mariyah Qibtiyah bukan sekadar budak biasa, Mariyah Qibtiyah adalah perempuan yang luar biasa dan istimewa. Demikianlah yang membuat Mariyah Qibtiyah tetap dihormati, dijaga, dan dimuliakan keberadaannyaa. []

 

Sumber: Perempuan-Perempuan Surga/ Imron Mustofa/Penerbit: Laksana/Yogyakarta: 2017



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline