Breaking News
Foto: Doa Mustajab - Doa-doa mustajab

Nikah Tanpa Mahar Seperangkat Alat Shalat, Tidak Sah?

Mahar atau mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan.

Momentum pernikahan adalah momentum terbahagia bagi seluruh umat muslim di dunia. Dan memberikan mahar adalah salah satu rukun yang harus dipenuhi oleh mempelai pria. Menikah juga merupakan sunnah Rasul. Terdapat beberapa ketentuan mahar dalam pernikahan yang wajib diketahui oleh semua umat muslim.

Suami memberikan mahar kepada istrinya. Allah SWT berfirman:

وَاَتُوْا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَهً

Yang memiliki arti: ”Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan,” (QS. An-Nisa’:4).

Allah SWT juga berfirman dalam QS. An-Nisa’ ayat 24. Yang memiliki arti:

“Istri-istri yang telah kamu campuri diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban,”

1. Menyebutkan mahar ketika akad nikah, bukan syarat sah nikah
Banyak ulama yang sepakat bahwa akad nikah tetap sah, sekalipun tidak disebutkan maharnya di majlis akad. Dalam ensiklopedi Fiqh, dinyatakan sebagai berikut :

“Menyebut mahar ketika akad bukanlah syarat sah nikah. Karena itu, boleh nikah tanpa menyebut mahar dengan sepakat ulama,” (Mausu’ah fiqhiyah Kuwaitiyah, 39 : 151).

Ibnu Qudamah juga mengatakan;

“Akad nikah sah, sekalipun tanpa menyebut mahar, menurut pendapat mayoritas ulama. Dalil mengenai hal ini terdapat dalam firman Allah SWT yang memiliki arti, “Tidak ada dosa bagi kamu, menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya.”

Tidak ada ketentuan bentuk mahar. Artinya, mahar bisa diberikan dalam bentuk apapun, yang terpenting memiliki nilai komersil. Menurut Imam Syafi’i, memiliki nilai yang komersil adalah sesuatu yang dianggap barang ada harganya menurut masyarakat, baik berupa emas, uang, atau barang lainnya.

Imam Syafi’i juga berpendapat bahwa: “Minimal yang boleh dijadikan mahar adalah harta ukuran minimal yang masih di hargai masyarakat, yang andaikan harta ini diserahkan seseorang kepada orang lain, masih dianggap bernilai, layak diperdagangkan,” (Al-Umm :5/63).

Maka dari itu, barang yang tidak memiliki nilai dan tidak dianggap berharga oleh masyarakat, maka barang tersebut tidak dihukumi sebagai mahar. An-Nawawi juga mengatakan, “Tidak ada ukuran untuk mahar, namun semua yang bisa digunakan untuk membeli atau layak dibeli, atau bisa digunakan untuk upah, semuanya boleh dijadikan mahar. Jika nilainya sangat sedikit, sampai pada batas tidak lagi disebut harta oleh masyarakat, maka tidak bisa disebut dengan mahar,” (Raudhatut Thalibin, 3/34).

Berdasarkan keterangan di atas, maka mahar boleh tidak memakai seperangkat alat sholat. Tetapi boleh digantikan dengan harta yang lain. Seperti emas, perak, uang, maupun apapun yang bisa dikatakan harta bagi masyarakat. Ukhti, sebaiknya sebagai muslimah yang baik dan sholihah, janganlah meminta mahar yang dapat memberatkan pasangan. Sebaik-baiknya wanita sholihah adalah wanita yang sedikit maharnya. Semoga bermanfaat. []

Sumber: Ihram

About Ralda Rizmainun Farlina

Check Also

rasa syukur, kecantikan, anugrah dari Allah

10 Bahan Alami Mencerahkan Bibir

Keindahan bibir dilihat dari bentuk dan warnanya, konon bibir dengan warna merah merona merupakaan dambaan setiap wanita. Begitu pentingnya bibir bagi penampilan kaum Hawa, bahkan membuat orang rela melakukan berbagai cara memerahkan bibir.

Tinggalkan Balasan