Breaking News
Foto: Storyblocks

Ingin Agar Anak Memiliki Visi Akhirat, Lakukanlah Hal Ini

Ketika kita mulai untuk membangun visi keluarga muslim sesuai dengan apa yang telah tercantum dalam Alquran, maka hal ini tentu perlu disampaikan pada anggota keluarga. Jika suami dan istri telah paham dengan visi dunia akhirat yang diemban, maka tugas selanjutnya adalah bagaimana menyampaikan dan menjalankannya bersama-sama dengan anak-anak.

Kondisi ideal tentunya menjalankan visi sejak memilih pasangan, mengandung keturunan dan mendidiknya. Namun, tidak menutup kemungkinan kita sebagai orang tua baru hijrah dan baru tersadar akan pentingnya visi akhirat ini. Tentu tidak ada kata terlambat, bagaimana Rasulullah pun bersama para sahabat dengan usia yang berbeda-beda.

Ciptakanlah dialog yang hangat antara ayah, ibu dan anak-anak dengan tema neraka dan surga. Pilihlah waktu yang tepat dan suasana yang kondusif sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa tersentuh hatinya. Sampaikanlah berulang-ulang dalam banyak pertemuan saat bersama yang memungkinkan kalimat, “Anakku, ayah dan ibu ingin kelak kita dapat bertemu dan bersama kembali di akhirat.”

Kaitkanlah segala sesuatu yang tampak di sekeliling anak dengan tujuan akhirat, yaitu surga dan neraka. Namun, perhatikan juga keseimbangan antara kisah surga dan neraka. Bagi anak-anak yang masih balita, porsi surga seharusnya lebih banyak sehingga menimbulkan rasa rindu dan keinginan yang kuat untuk melihat surga.

Ketika anak melakukan hal-hal yang baik, menunjukkan akhlaknya yang baik maka pujilah dan berikan kabar gembira bahwa surga adalah tempat bagi orang-orang yang melakukan kebaikan. Dan saat perlu ditegur, menceritakan neraka dapat membantu tetapi dengan cerita yang tidak berbohong dan bukan untuk menakut-nakuti dengan berlebihan. Ketika anak melakukan pelanggaran syariat dan hal-hal yang memang dilarang agama, maka neraka merupakan teguran yang pas.

Namun, jika anak hanya melanggar kedisiplinan seperti tidak menyimpan baju kotor pada tempatnya, meninggalkan atau menghilangkan barang maka tidak tepat jika kemudian ditegur dengan kata-kata, “sekali lagi kamu lakukan itu, nanti kamu masuk neraka.”

Seringlah berkisah dan berdialog dengan anak tentang sejarah Islam dan kebesaran Islam yang akan terulang. Dan sampaikan bahwa merekalah orang-orang hebat generasi yang akan mengulang sejarah kebesaran Islam. Jika ayah atau ibu berurai air mata saat menyampaikan tentang harapan dan tentang surga dan neraka, sungguh itu adalah air mata hidayah yang menyiram setiap jengkal hati anak-anak. []

Redaktur: Wini Sulistiani

About Ummu Khadijah

Check Also

hambatan belajar anak

Apakah Anak Anda Alami Depresi?

Sama seperti orang dewasa anak-anak mengalami perubahan perasaan. Mereka bisa merasa bosan, cemas, sedih, kecewa, malu, dan takut. Orang dewasa yang memiliki kematangan psikologis cenderung tahu bagaimana mengontrol perasaan-perasaan tersebut. Sementara anak-anak, cenderung belum bisa mengontrol dan mengelolanya dengan cara yang baik dan sehat. Penting untuk mengajari mereka keterampilan menghadapi ketakutan, menenangkan diri, dan menghibur diri.

Tinggalkan Balasan