Breaking News
Foto: deherba.com

Cinta Berlebihan akan Buat Kamu Menyesal

Sejatinya, cinta adalah fitrah manusia. Setiap manusia tentunya mencintai dan ingin dicintai. Dan, menciintai pasangan hidup itu sungguh baik, akan tetapi jika “terlalu cinta”, hingga kadarnya melebihi kecintaan dan ketaatan kita pada Allah dan Rasul-Nya, maka hal menyakitkan ini akan sangat mungkin menimpa diri kita:

1. Kesengsaraan Ketika Ditinggalkan

Jika kita terlalu cinta pada pasangan, efeknya sungguh buruk ketika maut memisahkan. Kita akan merasa amat menderita dan kesulitan menemukan hikmah di balik kehilangan tersebut.

Padahal, kematian adalah kepastian, maka cintailah pasangan dengan sewajarnya, di bawah kecintaan kita pada Allah dan Rasul-Nya, sehingga ketika kepastian datang memisahkan… kita tak akan terlalu larut dalam kesedihan.

2. Kekecewaan Terhadap Pasangan

Entah diduakan, ditelantarkan, atau diabaikan, yang jelas… jika cinta kita terlalu dalam pada pasangan, sangat mungkin kita diuji dengan cobaan-cobaan yang membuat hati kecewa.

Jangan pernah menyandarkan harapan pada pasangan hidup kita, hanya Allah Rabbul ‘Alamiin yang layak kita jadikan sandaran hati.

3. Tidak Mendapat Petunjuk Allah

Ada banyak manusia yang lebih mencintai pasangan hidupnya daripada Allah dan Rasul-Nya, maka Allah membiarkan mereka dalam kesesatan nyata.

Mereka mengira cinta mereka akan membahagiakannya, padahal sangat mungkin cinta itulah yang akan membawa pada kesengsaraan, kehampaan, dan kesedihan mendalam.

Coba renungkan baik-baik…

Siapa yang membuat jantung kita berdegup setiap saat? Apakah pasangan hidup kita atau Allah?

Siapa yang membuat kita bisa bernafas dengan leluasa? Pasangan hidup kita kah? Atau Allah?

Wajar jika Allah ‘Azza wa Jalla menuntut kita untuk mencintai-Nya di atas segala sesuatu. Dan Allah enggan memberi petunjuk hidayah pada orang fasik.

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah: 24)

4. Tidak Termasuk Golongan Orang Beriman

Ketika kita masih mencintai pasangan hidup di atas kecintaan kita pada Allah dan Rasulullah, bisa dikatakan kita belumlah sempurna menjadi orang beriman. Mengapa demikian?

Karena dunia ini hanyalah kesenangan sementara, sementara akhirat adalah negeri kekekalan. Pasangan hidup kita belum tentu lho bisa menyelamatkan kita di akhirat kelak, sekalipun ia adalah seorang ustadz, atau tokoh terpandang. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya sudah pasti mampu menyelamatkan kita.

Oleh sebab itu, tempatkanlah cinta pada pasangan paling tinggi hanya di urutan ketiga saja. Jangan sampai menjadi urutan pertama.

“Tidak beriman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dicintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga kita dan juga pasangan saling mencintai dalam kapasitas yang wajar dan tidak berlebihan. []

 

Sumber: ummionline

About Ummu

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

3 Ucapan Paling ‘Berbahaya’ dari Mulut Seorang Pria

Ada tiga ucapan yang paling berbahaya keluar dari mulut seorang pria kepada wanita. Apa sajakah itu?

Tinggalkan Balasan