Breaking News
Foto: Etsy

Anak Pergi

Oleh: Cece Suharyana

Ini mungkin dialami juga oleh ayah yang lain. Mungkin juga dirasakan oleh para ibu. Atau setidaknya ada yang pernah merasakan hal yang sama. Terutama yang anaknya mondok, atau sebentar lagi akan mondok.

Anak pertama saya sekarang duduk di kelas 6 SD. SDIT tepatnya. Masuk semester dua. Sesuai cita-citanya, juga cita-cita kami sebagai orangtuanya, selepas SD dia mau mondok. Tak ada yang perlu dirisaukan. Bahkan bagus. Hanya saya berpikir, “Ya Allah, anak saya enam bulan lagi akan meninggalkan saya.”

Secara status, dia anak saya, tapi kebersamaan dengannya hanya tinggal enam bulan lagi.

Anggaplah dia mondok selama enam tahun ke depan, sampai selesai jenjang SLA. Tidak bersama kami. Setelah itu, insyaAllah dia akan kuliah, sepertinya akan diluar kota juga. Mungkin juga di luar negeri. Itu artinya, dia tidak bersama kami. Selepas itu pulang? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Kalau setelah itu dia bekerja dan menikah dan mengikuti kemana suaminya kelak membawanya, maka makin jelas, dia keluar dari rumah dalam arti yang sebenarnya.

Ya, benar-benar meninggalkan rumah saya. Keluar dari pintu rumah orangtuanya. Namanya tidak tercantum lagi di kartu keluarga saya.

Mungkin terlalu didramatisir. Tapi kurang lebih, begitulah kemungkinannya.

Sampai di sini, saya paham, kenapa salah seorang rekan ketika anaknya mondok, dia tidak bisa tidur selama tiga hari. Menangis setiap melihat kamar tidur anaknya.

Seorang anak perempuan berusia 12 tahun, akan hidup jauh dari kedua orangtuanya. Seluruh hari-harinya akan dia habiskan bersama oranglain. Bukan bersama kami, orangtuanya. Menghadapi permasalahan dan kesulitan tanpa didampingi orangtuanya.

Banyak hal yang terlewat dalam mendidiknya. Belum puas membersamainya. Dan belum sempurna perbekalannya.

Bagi saya, ayahnya, dia tetaplah seorang anak manja. Yang belum bersih saat mencuci pakaian. Teramat lama ketika memakai sepatu. Juga sangat susah disuruh makan sayur. Ada saja alasannya.

Tapi bagaimanapun, kehidupan harus terus menggelinding ke depan. Kita siap atau tidak. Dan anak-anak akan menjalani masa depan mereka masing-masing.

Kewajiban kami di sisa kebersamaan ini adalah memilihkan teman seperjalanan terbaik. []

About Ummu Khadijah

Check Also

3 Ucapan Paling ‘Berbahaya’ dari Mulut Seorang Pria

Ada tiga ucapan yang paling berbahaya keluar dari mulut seorang pria kepada wanita. Apa sajakah itu?

Tinggalkan Balasan