Breaking News
Foto: Iqbal/RuMu

Bolehkah Istri Ikut Campur Urusan Suami?

Ketika ijab qabul telah terlaksana, dua insan yang saling mencinta itu bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Mereka sudah harus bisa memisahkan diri dari keluarganya masing-masing dengan membentuk keluarga baru, dalam satu atap. Tentunya, hal-hal yang bersangkutan mengenai keduanya akan terbuka. Maka, di sinilah harus adanya kekompakan yang baik di antara keduanya.

Sebagai seorang istri, mengetahui pekerjaan suaminya tentu tidak mengapa bukan? Tapi, apakah istri berhak ikut campur dalam urusan suami, khususnya pekerjaan di luar rumah?

Kehidupan rumah tangga dibangun atas dasar saling mencintai, menyayangi serta tolong menolong di antara suami istri. Setiap pasangan hendaknya berupaya untuk membahagiakan pasangannya, baik dengan perkataan maupun perbuatan yang baik.

Apabila salah satunya melihat suatu kesalahan yang tampak pada pasangannya, maka pintu untuk saling menasihati terbuka lebar. Sebagai catatan, ketika menasihati hindarilah kata-kata yang menyakitkan atau menasihati di depan umum. Tentunya dengan memperhatikan adab-adab sangatlah ditekankan.

Tetap bahwasanya seorang lelaki memiliki tabiat tidak ingin diatur, apalagi oleh seorang perempuan (istri).

Apabila salah satu pihak melakukan kesalahan, hendaknya pihak lain menolong dengan memberi saran dan masukan serta mendoakannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”(QS. Ar-Rum: 21).

Dengan Firman Allah yang menyejukan di atas, hendaknya kita introfeksi diri sebagai hamba Allah, disatukannya kita dengan pasangan kita tentunya untuk saling melengkapi.

Adapun celaan dengan kata-kata yang tidak enak akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Istri hendaknya sadar bahwa posisinya hanyalah sebagai pemberi nasihat, bukan pemberi perintah. Sebab, musyawarah hanya bersifat masukan, bukan perintah. Bila suami menerima pendapatnya, maka berbahagialah. Namun jika tidak, hendaknya ia menahan diri dan membantunya dalam mengatasi masalah yang sedang dihadapi. []

 

Sumber: Islampos

About Ummu

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Sebaiknya Lakukan Hal Ini saat Mendengar Adzan

Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali.

Tinggalkan Balasan