Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Ya, Bisa Jadi Itu Riba

0

Oleh: Saad Saefullah

Pagi tadi, sewaktu sarapan semangkuk soto berdua, pinggir jalan, terjadilah percakapan antara saya dan istri saya.

“Dulu,” ujarnya memulai percakapan, “sepuluh tahun yang lalu, kita hanya punya satu kredit motor, kecil lagi cicilannya, tapi kita selalu merasa kekurangan saja ya? Padahal, ketika itu, penghasilan ayah sudah termasuk agak besar…”

Saya menanggapi. “Itulah, kredit…”

“Ya, bisa jadi itu riba,” ujar istri saya lagi. “Kita merasa dengan kredit itu, jadi mudah dan enteng. Tapi nyatanya tidak. Setiap bulan, kita selalu kurang. Kita selalu aja pinjem duit, dan semacamnya…”

“Waktu itu, kita belum menyakini kalau kredit itu termasuk seperti itu…” ujar saya membela diri.

“Demikianlah, riba akan membuat kita seperti jadi orang gila, berputar-putar kesana kemari cari solusi. Gilanya bukan kayak orang gila ga punya ingatan yah…”

Saya tertawa. “Iyah, aku perhatikan, kalau lagi di jalan, sekarang ini orang cenderung kurang senyum, mudah marah, hatta karena hal sepele sekalipun. Juga macet sering kali terjadi dimana-mana. Mungkin karena kendaraan yang kita pakai selama ini lebih banyak hasil kreditan, hehehe… Jadinya itu tadi, jalanan seperti muter-muter ga karuan gitu… Tapi bisa jadi deng, itu kendaraan orang-orang beli cash hehehe…”

Motor pertama yang kami punya hasil kredit itu, sudah kami jual dengan harga yang sangat murah. Pun demikian, prinsip tak ambil kredit (rumah atau apapun itu), hanya kami anut sendiri. Semua orang punya keyakinan dan prinsip sendiri yang masing-masing harus dihormati.

Saya pernah bilang ke anak-anak saya, “Kita emang belum punya mobil. Tapi ayah tak pernah sakit kepala mikirin cicilan ini itu. Kalau rezeki berlebih, kita bisa makan dimana kita mau, plesir ke sebagian tempat yang bagus, bisa membayar uang sekolah kalian, dan bla bla bla… (selanjutnya perkataan yang tidak penting buat orang lain mungkin). Jadi pesan ayah sama kalian, besar nanti, jangan sesekali kalian hidup dengan riba.”

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275) []



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline