Breaking News
Foto: The Telegraph

Mengalah Bukan Berarti Salah

Ada saatnya bersikap tegas, ada saatnya pula melentur ego.
Ada saatnya mempertahankan argumen, di lain waktu lapang dada melunakkan keinginan.

Ada saatnya untuk bicara, di lain kesempatan mendengarkan penuh kesabaran.
Kebersamaan dengan pasangan adalah masa untuk belajar bersama, saling mengerti, dan memahami.
Di sini kita belajar mengalah, melembutkan hati, melenturkan ego, dan menundukan angkara.
Mengalah bukan berarti salah, tapi demi kebaikan bersama dan keutuhan rumah tangga.
Yang kalah tak selalu salah dan yang menang tak selalu benar. Tapi yakinlah kebenaran akan mengantarkan pada kebahagiaan.
Berpegang teguh pada kebenaran itu baik, harus, dan wajib. Tapi adakalanya kita perlu mengalah untuk mencari celah yang tepat dalam menyampaikan kebenaran.

Perselisihan dengan pasangan, mekipun benar, kita tidak serta merta harus menang. Harus begini dan begitu sesuai keinginan hati.
Sama-sama ngotot, sama-sama ingin menang, dan merasa paling benar, hanya akan menjadikan perselisihan semakin dalam. Sehingga mengalah menjadi bagian yang penting dalam kebersamaan.
Bila istri meninggi, saatnya suami merendah. Bila suami memuncak, saatnya istri melunak. Syukur-syukur sama-sama merendah, sama-sama mengalah, dan sama-sama menyadari bahwa mengedepankan ego tidak akan menyelesaikan persoalan.

Terhadap wanita yang hari ini Allah takdirkan menjadi istri kita, hendaklah berlapang dada, mencintai dengan seksama, dan membersamai dengan bijakana.
Ia amanah, titipan, dan bagian hidup yang harus hati-hati membimbingnya, pelan-pelan menuntunnya, dan sabar menasihatinya dalam kebenaran.

Melalaui lisannya yang agung, mulia, dan tak pernah berdusta Rasulullah Saw menasihatkan:
“Pergaulilah kaum wanita dengan baik, sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesuatu yang paling bengkok yang terdapat tulang rusuk adalah bagian paling atas.
“Bila engkau meluruskannya dengan seketika, niscaya engkau mematahkannya, namun bila engkau membiarkannya maka ia akan selalu bengkok. Karena itu pergaulilah wanita dengan penuh kebijakan.” (HR Bukhari)

Tergesa dalam meluruskan, bisa mematahkan perasaanya. Tapi bila dibiarkan tak diluruskan, ia akan tetap bengkok. Sehingga bijaksana dalam membimbing, meluruskan, mengingatkan, dan menasihati dalam kebajikan menjadi sebuah kemestian.

Sebagsimana sebuah sysir:

Tercipta engkau engkau dari rusuk lelaki
Bukan dari kaki untuk dialasi
Bukan dari kepala untuk dinjunjung
Tapi dekat di bahu untuk dilindung
Dekat jua di hati untuk dikasihi
Engkaulah wanita hiasi duniawi
Mana mungkin lahirnya bayangan yang lurus elok
Jika datangnya dari kayu yang bengkok
Begitulah pribadi yang dibentuk
Didiklah wanita dengan keimanan bukannya harta
Atau pun pujian kelak diderita berharap pada yang binasa
Engkaulah wanita istimewa
Sadarilah insan istimewa
Bahwa kelembutan bukan kelemahan
Bukan jua penghinaan dari Tuhan
Bahkan sebagai hiasan kecantikan

(D’Hearty, “Wanita”)

Dengan ketulusan hati, kita mohon pada Allah kekuatan, petunjuk, dan pertolongan. Semoga dapat meluruskan tanpa mematahkan, menguatkan tanpa menyakitkan, dan memuliakan tanpa menghinakan. Biarlah mengalah sementara untuk meraih kemenangan yang menguatkan kehidupan rumah tangga. Aamiin. []



Artikel Terkait :

About Ummu Khadijah

Check Also

3 Ucapan Paling ‘Berbahaya’ dari Mulut Seorang Pria

Ada tiga ucapan yang paling berbahaya keluar dari mulut seorang pria kepada wanita. Apa sajakah itu?

Tinggalkan Balasan