Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Bund, Kebiasaan ini Ternyata Mengganggu Perkembangan Otak Anak

0

Sejujurnya, tidak anak-anak yang ditakdirkan memiliki kebodohan. Hanya saja mungkin ini adalah bentuk tidak optimalnya perkembangan otak anak. Kecualikan diskusi kita kali ini dengan anak-anak istimewa yang memiliki kelebihan berupa disability intelllectual (DI/atau yang sering disebut anak-anak berkebutuhan khusus).

Karena, terkadang anak-anak yang terlahir normal dan pintar pada proses tumbuh kembangnya juga dipengaruhi oleh perilaku orang tua yang menyebabkan mereka sedikit tertinggal dan terhambat perkembangannya. Untuk menghindari hal tersebut, beberapa sebab yang bisa menyebabkan perkembangan otak anak tidak optimal:

1. Kebiasaan dibentak

Mungkin ada diantara Bunda yang menggunakan bentakan untuk mendisiplinkan dan membuat mereka patuh terhadap nasehat kita, atau mungkin kita pernah melakukannya tanpa sengaja saat mereka melakukan kesalahan yang membuat kita marah. Akan tetapi tahukah Bunda bahwa kebiasaan membentak pada mereka justru akan berakibat fatal.

Mereka tidak hanya akan tumbuh jadi anak pembangkang, tapi juga menyebabkan mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan baik di dalam lingkungan sosialnya, membuat mereka minder, penakut dan sering merasa bersalah. Sehingga lambat laun akan mempengaruhi rasa percaya dirinya.

Mungkin ada diantara Bunda yang tidak mengerti bahwa bentakan bisa menimbulkan akibat yang lebih fatal yaitu terputusnya sambungan neuron atau sel-sel di dalam otak. Hal ini disebabkan karena sistem kerja hormon kortisol yang secara alami berperan sebagai ‘penjagal’ sel-sel otak mereka. Saat mereka takut, maka ‘tukang jagal’ inilah yang akan beraksi dengan brutal.

Anak yang tumbuh dengan bentakan pada awalnya dianggap biasa-biasa saja, tidak memiliki kelainan apa pun. Tapi berdasarkan apa yang penulis temukan di lapangan, anak-anak yang terbiasa dibentak dan dimarahi oleh orang tuanya malah memiliki kesulitan untuk menjelaskan pendapatnya, kurang bisa diajak berkomunikasi dan berinteraksi, kurang memiliki inisiatif, cengeng dan tidak bisa membuat keputusan sendiri.

2. Kurangnya rangsangan masa golden ages

Golden ages atau usia emas, terjadi antara usia 0-6 tahun. Usia emas ini merupakan masa awal yang sangat menentukan kecerdasan mereka. Karena mereka di usia ini disebutkan bisa menyerap ratusan ribu kosakata dalam waktu singkat.

Mereka juga bisa dikembangkan kemampuan seni dan logika matematikanya. Oleh karena itulah, Rasulullah seakan memberikan isyarat kepada kita bahwa di usia ini, mereka adalah raja-raja kecil yang harus senantiasa diperhatikan dan dimuliakan, dikembangkan rasa percaya dirinya, dipupuk pengetahuannya melalui kegiatan bermain dan belajar.

3. Kurang diajak berkomunikasi

Pentingnya komunikasi yang dijalin dengan mereka akan menyebabkan mereka terbiasa untuk berfikir, memberikan respon untuk menanggapi, menyampaikan pendapat dan keinginannya, terbiasa mengambil keputusan, bisa memahami lingkungan sekitar dan lain sebagainya.

Jangan biarkan mereka asik dengan tontonan kartun selama berjam-jam di depan televisi atau gadgetnya. Karena mereka kelak akan menjadi manusia masa depan yang juga akan terus berhadapan dengan manusia di sekelilingnya.

4. Kurang makanan bernutrisi

Asupan makanan bernutrisi tentu akan memberikan kebaikan pada tubuhnya baik daya tahan tubuh maupun perkembangannya. Utamakan makanan berupa sayuran, kacang-kacangan, protein hewani, telur, susu, kurma dan lain sebagainya. Ada baiknya Ummi menghindari makanan olahan yang mengandung banyak pengawet dan pewarna berbahaya.

5. Kurangnya motivasi

Loading...

Pada akhirnya motivasi memegang peranan yang sangat penting, sebuah teori bernama n-Ach (need for Achievement) menyebutkan bahwa alasan seseorang berprestasi ataupun tidaknya ditentukan oleh dorongan atau motivasi. Karena itu, dorong prestasi mereka sekuat dan sesering mungkin.

Wallahu’alam bishawab. Semoga bermanfaat. []

Sumber: Ummionlline



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf Ukhti Antum Offline