Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Ayah Kenapa Berbohong?

0

Oleh: Diarisma Wibowo, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Menjadi ketua umum Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).

Aku adalah seseorang yang tak pernah menemui duka. Setiap kali tangis hendak menikam, ayahku selalu ada untuk membunuhnya. Menyayat luka dengan teganya dan menyeret senyum ke dalam perkumpulan tawa.

Ayahku tak pernah menyerah. Dalam pedihnya kisah yang tajam, dalam teriknya cacian yang datang, dia selalu tersenyum lembut padaku. Bahkan sesekali, candaan kecil tak lepas ia selipkan pada kehidupan ini.

Ayaku ialah malaikat yang tegar. Hatinya telah ditempah dari sebuah permata. Angannya sudah terbungkus dengan balutan sorban dan raganya masih tetap, tanah yang hina.

Ayahku adalah ayah yang hebat. Baginya, lelah itu adalah angin yang menyejukkan. Sakit itu, adalah buah dari kenikmatan. Dia selalu menumbuhkan senyum yang tak pernah memiliki umur. Dia selalu berfikir, kebahagian itu adalah debu yang berserakan di tanah. Hingga dengan mudah ia raup, lalu membawanya pulang untuk kami nikmati. Ayahku adalah ayah juara nomor satu.

Tetapi, ayahku adalah seorang pembohong. Dia selalu bersembunyi dalam tebalnya kabut. Dia selalu berlari pada pedihnya hidup. Nyatanya, dalam kesendirian dia selalu menyeka embun yang hendak jatuh. Dalam nalurinnya, dia selalu menahan keluh yang hendak memuntah. Dia berbohong, jika hidup ini tidak kejam. Dia berdusta, jika keadaan ini bukanlah derita. Ayahku adalah seorang pembohong. Dia lakukan semua itu, teruntuk diriku. []



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline