Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Perjalanan Menuju Pelaminan

0

Ada seorang mahasiswa saya bertanya, Assalamu’alaikum Pak Tauhid, saya masih kuliah semester 6, tapi saya sudah memiliki kekasih (calon). Dia itu masih satu kampus dan satu angkatan juga dengan saya.

Kami sudah serius menjalin hubungan sampai jenjang pernikahan. Terpikir juga oleh saya untuk segera menikah agar menghindari fitnah. Alhamdulillah, saya sendiri sudah memiliki penghasilan sendiri walaupun belum banyak. Dia juga suka mengajar privat. Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin meminta pertimbangan Pak Tauhid tentang rencana saya tersebut? Terima kasih.

Tidak ada kata yang paling bijak untuk dikatakan, selain ungkapan doa, semoga siapa pun yang bernasib seperti mahasiswa ini, diberi kemudahan oleh Yang Mahakuasa dalam memutuskan salah satu perkara besar dalam hidup, yaitu menikah sekaligus menjalaninya. Tetapi, sebelum memutuskan melangkah ke gerbang pernikahan, untuk meniti perjalanan berumah tangga, ada beberapa hal yang selayaknya kita ketahui dan pahami.

Persiapan
Sebuah ungkapan mengatakan bahwa “gagal dalam merencanakan, sama artinya dengan merencanakan gagal”. Artinya, dalam mengerjakan apa pun, terlebih sesuatu yang besar, menyangkut diri sendiri dan orang lain, menyangkut kebahagiaan dunia dan akhirat, persiapan yang matang menjadi kunci dalam meraih keberhasilan. Demikian pula halnya dengan pernikahan. Sebagai sesuatu peristiwa yang sakral dan bernilai tinggi, persiapan menjadi kata kunci agar pernikahan bisa dijalani dengan baik.

Apa saja yang harus dipersiapkan? Paling tidak, ada tiga komponen yang harus dipersiapkan, yaitu persiapan calon suami, persiapan calon istri, dan persiapan orangtua atau mertua.

Persiapan bagi Calon Suami
Apa saja yang harus disiapkan oleh calon suami ketika pernikahan sudah tampak di depan mata? Ada empat hal. Pertama, kesiapan menjadi seorang pemimpin di keluarga. Allah Ta’ala telah menganugerahkan bagi laki-laki kuasa kepemimpinan di rumah tangga. Walaupun demikian, posisi dia tidak berarti menjadi lebih tinggi dari yang dipimpin. Jabatan hanya sekadar pembagian tugas, dengan beban tanggung jawab yang lebih besar.

Kedua, kesiapan ilmu, khususnya ilmu agama. Seorang suami harus bisa mendidik istrinya. Seorang suami yang kurang ilmu, biasanya hanya bisa “ngarang”. Dan orang yang “ngarang” cenderung bersikap emosional, mudah marah. Pengetahuan agama yang dimiliki, tidak harus sempurna. Setidaknya mengetahui mana yang wajib, sunnah, dan mana yang makruh.

Ketiga, kesiapan mental dan ruhiyah. Dalam rumah tangga pasti akan ditemukan banyak masalah. Agar dapat mengelola masalah secara cerdas, seseorang memerlukan mental kuat dan hati yang lapang. Orang yang “lemah” mental dan imannya, cenderung goyah ketika dihadapkan pada sebuah masalah. Saat dia memaksakan diri menghadapi masalah tersebut, apa yang dilakukan biasanya hanya menambah masalah baru.

Keempat, kesiapan finansial (keuangan). Membangun pernikahan tidak cukup hanya dengan cita-cita ideal. Memiliki keyakinan bahwa Allah Mahakaya memang penting, akan tetapi kita pun harus menyempurnakannya dengan ikhtiar. Kesiapan finansial yang lebih penting tentu saja adalah setelah menikah. Apakah Anda sudah siap membiayai dan memenuhi kebutuhan istri dan Anda kelak? Pertanyaan semacam ini harus mampu dijawab oleh seseorang yang akan menikah.

Persiapan bagi Calon Istri
Seorang calon istri harus siap belajar agama, siap menaati suami, siap mental apabila suaminya sesuai dengan harapan dan siap pula bila dia tidak sesuai harapan. Hal yang pertama kali harus disiapkan oleh seorang calon istri adalah lurusnya niat dan “beragama”. Apabila sepasang suami-istri sudah seagama, seakidah, separuh agama insya Allah sudah dia peroleh. Dia tinggal berusaha memperoleh yang setengahnya lagi, yaitu: hormat pada suami, harmonis dalam pergaulan, hemat dalam pembelanjaan, sering introspeksi agar tahu kekurangan dan kelebihan diri.

Persiapan Orangtua
Proses pernikahan tidak lepas dari soal walimah atau resepsi pernikahan. Walau tidak wajib, resepsi pernikahan dianjurkan oleh Rasulullah. “Buatlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing”. Artinya, tetangga dan kerabat harus tahu agar tidak menjadi fitnah. Resepsi tidak perlu bermewah-mewah. Hal yang lebih penting adalah rasa syukurnya dengan mengundang kerabat dekat; bersyukur Allah SWT

telah mempertemukan jodoh terbaik sebagai anugerah.

Kematangan Biologis dan Psikologis
Bagaimana dengan status “pernikahan dini”? Sejatinya, wacana menikah pada saat kuliah pernah menjadi polemik yang memicu kontroversi dari komentar berbagai kalangan. Ada yang pro dan ada pula yang kontra. Jika saya tidak keliru, semuanya berawal dari tulisannya Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono sekitar tahun 1983 yang berjudul ”Bagaimana Kalau Kita Galakkan Perkawinan Remaja?”

Guru Besar Psikologi UI ini mengemukakan, pernikahan remaja merupakan pilihan terbaik menciptakan pergaulan yang baik dan sehat. Beliau berargumen, mencegah bahaya itu harus didahulukan daripada mengambil manfaat. Memang, penundaan usia perkawinan memiliki sejumlah manfaat. Anak tetapi, ”pernikahan dini” atau ”pernikahan usia remaja” sangat diperlukan untuk menghindari bahaya yang lebih besar, semisal perzinahan, pergaulan bebas, dan sejenisnya.

Apa yang diungkapkan Prof. Sarlito Wirawan sebenarnya memiliki dasar hukum yang kuat. Kita dapat merujuk pada Undang-Undang No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam undang-undang ini disebutkan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang lelaki dengan seorang perempuan sebagai suami istri, dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan hanya diizinkan jika pihak laki-laki sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 tahun. Nah, berdasarkan persyaratan itu, anak mahasiswa; termasuk yang diperbolehkan oleh negara untuk menikah, mengingat pada umumnya mahasiswa berumur di atas 18 tahun.

Apabila kita melihat dari sudut pandang biologis dan medis, pernikahan usia mahasiswa pun sudah memenuhi unsur “kelayakan”. Mengapa? Sebab, secara biologis, usia mahasiswa sudah dapat dikategorikan sebagai usia yang matang. Bahkan, masa paling ideal bagi perempuan untuk memiliki anak adalah antara 20-30 tahun. Oleh karena itu, menikah ketika kuliah S1, secara medis tidak ada masalah.

Loading...

Bagaimana secara psikologi? Lois Hoffman, et.al. dalam bukunya yang berjudul Developmental Psycology Today menyatakan, rentang usia 20-24 tahun merupakan saat terbaik menikah. Rentang usia ini adalah rentang usia terbaik untuk menikah, baik untuk memulai kehidupan rumah tangga maupun mengasuh anak pertama.

Dari uraian tadi, menikah pada usia kuliah, sudah memiliki kelayakan, baik secara yuridis, agamis, psikologis, maupun medis. Jadi, tidak ada masalah. Hal penting yang harus dilakukan adalah benar-benar siap mental dan siap bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil, plus dapat meyakinkan kedua orangtua sehingga mereka berkenan memberikan restu.[]

 

Sumber: Daruttauhid



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline