Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Sembilan Nasihat Pernikahan yang Luar Biasa dari Perempuan yang Dua Kali Cerai

2

Karen Lodato, pemilik blog eightrising.com ini, dengan rendah hati menulis beberapa nasihat untuk kita, para istri yang ingin memiliki pernikahan yang langgeng dan bahagia. Padahal, ternyata Karen sendiri adalah seorang wanita yang mengalami kegagalan rumah tangga bahkan sampai dua kali.

Namun justru karena itulah, Karen memberikan nasihatnya yang sangat berharga agar kita yang masih diberikan karunia berupa biduk rumah tangga bisa mengambil hikmahnya.

1. Hormati Suami Kita

Kebutuhan terbesar seorang laki-laki adalah penghargaan dari sekitarnya. Dan orang yang paling dia harapkan dapat memenuhi kebutuhan tersebut–terutama dalam status pernikahan–tentu adalah kita, istrinya.

Meski mencari nafkah bagi keluarga adalah kewajiban suami, bukan itu saja lo yang dia berikan kepada kita. Keputusan-keputusan penting yang dia pilih bagi keluarga, kenyamanan dan perlindungan dari dunia luar, cinta dan kesetiaannya juga merupakan pemberian yang sangat berarti bagi keluarga.

Ucapkanlah rasa terima kasih kita dengan tulus, hargailah setiap keputusannya meski mungkin menurut Mama itu konyol dan salah.

Suami juga manusia, Ma. Pasti ada kurang dan salahnya. Begitu juga kita, kan? Dengan kita menghormatinya, ia akan termotivasi untuk memberikan yang lebih baik untuk kita dan keluarga.

2. Jagalah Hati

Jangan kau nodai … Jagalah hati, lentera hidup ini.

Eh, bukan. Ini bukan tentang lagunya Aa Gym. Tapi memang ada benarnya.

Selama ini kita selalu menganggap rumput tetangga lebih hijau. Pernikahan mereka lebih bahagia, suaminya lebih romantis, mereka lebih kaya, anak-anaknya lebih pinter dan sebagainya.

Padahal nggak selalu begitu. Menjadi lebih langsing, memiliki penghasilan lebih tinggi, mobil lebih bagus dan rumah lebih besar nggak menjamin kita bisa menjadi perempuan yang lebih bahagia.

Mungkin ini nasihat usang yang sudah beribu kali kita dengar. Tapi kunci pernikahan bahagia adalah dengan mensyukuri apa yang kita miliki.

Jagalah hati kita dari hal-hal dan orang-orang yang mencoba meyakinkan, bahwa hidup kita atau suami kita tidak cukup baik. Akan selalu ada yang lebih besar, lebih kuat, lebih bersinar.

3. Tuhan, Suami dan Anak. Itu Urutan Prioritas Kita

Ini memang bukan filosofi populer di kalangan para istri. Terutama dua urutan terakhir. Suami haruslah menjadi prioritas kedua setelah Tuhan (Allah SWT) dalam hidup kita. Anak-anak menyusul setelahnya. . Ini bukan berarti Karen menyarankan kita untuk mengabaikan anak-anak demi melayani keperluan suami.

Loading...

Pernikahan seharusnya membuat kita bahagia, dan kemudian membawa kebiasaan baru yang makin membuat pernikahan semakin lengkap dan hangat.

4. Maafkan

Sekali lagi, tidak ada manusia yang sempurna. Semua orang pasti melakukan kesalahan. Jika kita dapat memaafkan setiap kebiasaan-kebiasaan kecil yang menurut kita mengesalkan seperti meletakkan baju kotor di lantai dan bukannya di keranjang cucian; melemparkan tas begitu saja tanpa menyimpannya di dalam lemari; tidak meletakkan kembali dudukan toilet setelah digunakan dan sebagainya, kita bisa mencegah kekesalan pada suami tumbuh di hati kita.

5. Komunikasi

Karen memiliki kebiasaan jelek yang ia lakukan selama bertahun-tahun dalam dua pernikahan sebelumnya, yaitu tidak mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Ia selalu berharap sang suami dengan sendirinya mengerti, kenapa ia marah atau sedih.

Sebenarnya kebiasaan ini tidak adil bagi para suami. Mereka, tidak selalu dapat membaca pikiran atau bahasa tubuh para istrinya. Dan para suami ini nggak selalu sadar kalau mereka telah bersikap tidak sensitif terhadap perasaan kita. Jadi yang harus kita lakukan adalah komunikasikan perasaan kita.

6. Kencan

Jadwalkan kencan dengan suami setiap minggu atau dua minggu sekali. Ini serius lho. Cuma berdua saja.

7. Jangan Pernah Ucapkan Kata “C”

Semarah apa pun, saat sedang bertengkar jangan mudah meminta cerai.  Mengancam suami untuk bercerai bukanlah seni bertengkar yang baik dan adil, menurut Karen. Ia sering melakukannya pada pernikahannya sebelumnya dan hasilnya tidak baik sehingga menjadi pelajaran berharga baginya.

Meskipun kita terluka begitu dalam dan ingin membalas, mengucapkan kata cerai untuk mengancam suami tak akan membuat kita merasa lebih baik. Ditambah lagi dalam Islam, pernikahan adalah suatu hal yang halal namun dibenci oleh Allah SWT.

8. Ketahui Bahasa Cintanya

Semua orang punya bahasa cinta. Bagaimana kita memandang serta merasakan cinta bisa berbeda dengan pasangan dan anak-anak.

Apakah suami menyukai kata-kata penuh pujian dan kasih sayang, atau dia lebih suka saat Mama memberinya hadiah? Apapun bahasa cintanya, pelajari dan praktikkan.

9. Jangan Pernah Berbicara yang Jelek-Jelek dari Suami kepada Orang Lain

Jika Anda mengalami masa-masa sulit dalam pernikahan, bicarakan pada ahlinya, baik psikolog atau konselor pernikahan profesional.

Curhat kepada keluarga memang baik, tapi mereka hanya mendengar dari satu sisi, yaitu sisi kita sendiri. Sehingga mereka pasti akan cenderung membela Anda, dan malah bisa membangun perasaan negatif kepada pasangan kita, yang biasanya tidak akan berkurang.

 

Selama menjalani pernikahan, akan selalu ada saat-saat kita bangun dari tidur dan merasa bahwa kita tidak lagi mencintai sosok yang ada di samping kita. Akan ada masanya ketika suami tidak lagi nampak menarik bagi kita, tapi tetaplah memilih untuk mencintai dia.

Pernikahan adalah sebuah komitmen untuk selalu bersama dalam situasi apa pun. Susah dan senang, sehat dan sakit. Bukan hanya saat sehat dan senang saja. Justru sebagian besar cinta diuji ketika susah dan sakit. Jadi selama suami tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga atau mengingkari komitmen lain yang merugikan keluarga, pilihlah untuk mencintai, Ma.

Dia layak mendapatkannya. []

Sumber: rockingmama.id



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

2 Comments
  1. An says

    Point 7, mungkin maksud ny “perceraian adalah suatu hal yang halal namun dibenci oleh Allah SWT”
    Cmiiw

    1. Admin says

      Betul Bu. Terima kasih atas koreksinya. Kami perbaiki ya.

Maaf Ukhti Antum Offline