Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Itu Bertentangan dengan Hukum Islam, Maka Muliakanlah Ia!

0

 

Oleh: M. Iqbal Zen

Penulis Bina Qalam Indonesia

 

Fenomena kekerasan terhadap perempuan nampaknya masih sulit terhindarkan dari “tradisi” manusia. Fenomena kekerasan terhadap perempuan nyata malah semakin meningkat. Hal tersebut difahami dari hasil kajian Komnas Perempuan yang memperoleh data pada tahun 2001 sebanyak 3.160 kasus, kemudian pada tahun 2002 meningkat menjadi 5.163. Hal yang lebih mengagetkan bahwa Komnas Perempuan pada tahun 2007 mencatat kasus sekitar 26.000. Jumlah tersebut ternyata melonjak signifikan pada tahun berikutnya, 2008 yang mencapai 56.000 kasus.

Deretan kasus di atas memunculkan sebuah tanda tanya besar, mengapa dan apa sebabnya kekerasan terhadap perempuan masih saja terjadi? Dalam menjawab pertanyaan tersebut, memang kita tidak dapat mengeneralisir faktor dan penyebab kekerasan tersebut tetap menggeliat.

Tidak dapat dimungkiri bahwa ada bias dalam memahami kedudukan laki-laki dan perempuan dari dulu hingga kini. Akibat bias tersebut, perempuan tidak hanya mengalami peremehan tetapi juga pelecehan bahkan kekerasan baik fisik maupun batin. Legitimasi kekerasan tersebut kerap kali disandarkan pada dalih keagamaan. Agama bagi mereka merupakan payung untuk melaksanakan modus pelbagai kekerasan. Dengan dalih keagamaan dan penafsiran yang mereka anggap benar, maka kemudian perempuan tak jarang dijadikan sebagai objek.

Dalam kajian keislaman khususnya dalam kajian hadis kontemporer, dikenal istilah “hadis misoginis”. Secara kebahasaan, misoginis berarti kebencian terhadap perempuan. Pemahaman hadis misoginis bukan berarti hadis yang mengandung unsur “kebencian” terhadap perempuan. Hal tersebut sudah pasti mustahil ada dalam diri seorang Nabi, karena tidak ada satu hadis pun yang mengandung unsur kebencian terhadap sesama manusia maupun makhluk lain kecuali hadis tersebut bersifat palsu (maudlu). Hanya saja, yang harus diperhatikan adalah penafsiran atas hadis tersebut.

Salah satu contoh yang kerap dijadikan pemahaman bahwa kaum perempuan berada di bawah laki-laki adalah intervensi malaikat dalam hubungan seks antara suami dan istri. Malaikat akan melaknat sampai subuh bagi serorang istri yang menolak ajakan suami. Dalam memahami hadis tersebut tentu harus dilihat secara holistik sehingga memunculkan pemahaman yang seimbang. Wahbah az-Zuhaily misalnya memberi catatan bahwa laknat bagi istri tersebut jika penolakannya tanpa didasari oleh suatu sebab atau istri dalam keadaan longgar.

Dilihat dari aspek yang berbeda, dapat pula dilakukan dengan pendekatan kebahasaan (semantik). Kata yang digunakan sebagai kata untuk mengajak adalah daā. Kata tersebut sejatinya digunakan untuk mengajak dengan ajakan yang halus, sopan dan baik seperti ajakan kepada jalan kebenaran (al-Nahl [16] : 125). Lalu, kata yang digunakan sebagai jawaban atas ajakan tersebut adalah abat (menolak). Kata abat berarti menolak dengan kasar, tak acuh dan keras (lihat. Al-Baqarah [2] : 34). Maka, laknat akan turun jika ajakan yang baik dibalas dengan jawaban yang kasar. Ajakan tersebut dapat berasal dari suami maupun istri.

Islam memuliakan Perempuan

Salah satu bukti pemuliaan Islam terhadap kaum perempuan adalah dengan adanya penamaan sebagian surat dalam al-Quran yaitu surat an-Nisā dan Maryam. Kata an-Nisā secara lebih rinci terulang dalam al-Quran sebanyak 59 kali. Disinilah Islam hadir untuk mengangkat derajat kaum perempuan menjadi lebih terhormat dan mendapatkan hak-haknya sebagai manusia. Allah swt berfirman

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (97(

Barang siapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. ( An Nahl [16] : 97).

Dr. Muhammad Rātib an-Nabulsy dalam karyanya Muasūah an-Nabulsy lil Ulūmi al-Islamiyyah memberikan penjelasan bahwa penggunan kata dzakar dan unsta secara bersamaan sejatinya merupakan sebuah penekanan terhadap kesamaan kedudukan antara laki-laki dalam perempuan baik dalam hal tanggung jawab (taklīf) maupun dalam pemuliaan (tasyrīf). Oleh karena itu, ketika seorang perempuan melakukan kebajikan, ia akan memperoleh balasan (hayātan thoyyibah-kehidupan yang baik) sebagaimana seorang laki-laki melakukan hal yang sama.

Maka, Ketika dipahami secara holistik, sejatinya Islam sangat menghormati dan memuliakan kedudukan perempuan. Tidak ada bagian dalam Islam yang melegitimasi siapa pun untuk merendahkan kaum perempuan. Allah menjadikan laki-laki dan perempuan dengan fungsi yang berbeda-beda, namun hal ini tidak untuk menjadikan diskriminasi. Jika ada pemahaman yang merendahkan perempuan, maka sebenarnya bukan berasal dari dalam ajaran Islam, namun dari ideologi yang lain.

Loading...

Wāllahu alam bi ash-shawwab.[]



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline