Breaking News
Foto: www.dakwatuna.com

5 Sosok Wanita Muslimah Yang Menginspirasi Dunia

Gerakan emansipasi atau kesetaraan gender kian semarak di era modernisasi dewasa ini. Gerakan feminisme pada satu titik, kemudian memunculkan gugatan terhadap hukum-hukum Islam, yang dianggap akar diskriminatif terhadap perempuan.

Foto: www.dakwatuna.com

Perempuan-perempuan muslimah yang menjaga kehormatan dan kesuciannya dengan tinggal di rumah, dikesankan sebagai perempuan-perempuan pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat atau menegakkan hijab kepada yang bukan mahramnya, kerap dianggap penghambat kemajuan budaya.

Tapi sejarah panjang Islam membuktikan sebaliknya. Perempuan-perempuan Islam sesungguhnya telah menjadi pelaku revolusioner, pemimpin heroik yang ikut mengubah jalannya sejarah peradaban, dan menginspirasi dunia.

Berikut ini adalah wanita-wanita muslimah yang ikut mengubah jalannya sejarah sejak abad ke-7 hingga saat ini. Dalam perjuangan dan aktivitasnya, beberapa dari mereka harus dipenjara, disiksa, dilecehkan, namun kekuatan hati dan iman membuat mereka tetap bertahan dan mencapai tujuan.

Mereka tak banyak dikenal luas oleh dunia, mungkin saja karena kesengajaan untuk mengaburkan peran mereka.

1. Nusayba bint Ka’b Al-Ansariyah (630-690 M)

Dialah salah satu pejuang muslimah pertama yang telah ikut berperang di sisi Rasulullah Muhammad SAW dalam membela panji-panji Islam pada awal penyebarannya.

Ia hidup di masa Rasulullah di Madinah, dan terlibat dalam Perang Uhud, Perang Hunain, Perang Yamama, dan Perjanjian Hudaibiyah.

Ia berjuang di sisi Muhammad bersama suami dan kedua anaknya. Setiap kali bahaya mengancam Muhammad, ia selalu ada untuk melindungi.

Sebuah catatan menyebutkan sebuah kisah di Perang Uhud di mana Nusayba sendiri bercerita, “Suatu ketika pasukan meninggalkan Rasul tidak terlindungi. Hanya sedikit yang bertahan, tak lebih dari sepuluh orang. Aku bersama suami dan anakku termasuk yang masih bertahan dan berjuang bersama Rasul.”

Dalam buku The Scimitar and the Veil (Hidden Spring, 2004) halaman 214, penulis mengutip pernyataan Muhammad, yang menyinggung nama Nusayba. “Dalam Perang Uhud, ke manapun aku memandang, aku melihat dia berjuang untukku.”

Dikenal dengan nama Umm Omara, wanita ini juga dianggap sebagai pejuang hak asasi wanita pertama. Dikisahkan Umm Omara bertanya kepada Rasulullah, “Kenapa Allah hanya menyebut laki-laki (dalam alquran)?”

Kemudian turun Surat Al Ahzab, dan pada ayat 35 dijelaskan persamaan antara laki-laki dan wanita dalam hal amal saleh dan balasan masing-masingnya.

2. Rab’ia al-Adawiyya (717-801 M)

Rab’ia dikenal sebagai wanita sufi yang hidup pada abad ke-8 di Basra, Irak. Kisahnya lebih banyak ditulis oleh Farid ud-Din Attar, juga seorang sufi dan penyair. Sesungguhnya, dialah salah satu pendiri sufisme.

Loading...

Rab’ia lahir dari keluarga sangat miskin dan menjadi budak. Ia menjadi sufi dan menentang perbudakan. Sebagai penyair dan sufi, ia menulis dan mempopulerkan apa yang dikenal dengan the doctrine of Divine Love atau “Cinta Ilahi”, dan menjadi salah satu penyair sufi terpenting di eranya.

Suatu ketika ia ditanya mengapa selalu berjalan menyusuri jalan dengan meneteng seember air di satu tangan dan memegang sebuah lilin menyala di tangan satunya. Rab’ia menjawab, “Aku ingin membakar surga dengan api ini, dan memadamkan api neraka dengan air ini, sehingga orang akan berhenti menyembah Allah karena takut neraka atau godaan surga. Orang harus mencintai Allah sebagaimana Allah mengasihi mereka.”

Ia memiliki banyak murid yang di kemudian hari tercatat sebagai sufi-sufi terkenal. Rab’ia sendiri berguru pada ulama dan cendekiawan terkemuka Hasan Al Basri, seorang tabi’in (generasi setelah sahabat Nabi).

3. Fatima al-Fihri (tidak diketahui-880 M)

Dialah pendiri universitas pertama, sekaligus kampus perguruan tinggi tertua di dunia. Fatima adalah seorang dermawan bersahaja yang mewakafkan sebagian besar harta warisannya untuk mendirikan Masjid al- Qarawiyyin, di kota Fez, Maroko.

Sebuah masjid yang kelak menjadi cikal bakal universitas pertama di Maroko, dunia Islam, dan di seluruh dunia.

Bermula dari aktivitas diskusi agama yang digelar masjid itu, belakangan berkembang membahas pelbagai persoalan. Lambat laun, materi yang dibahas dan diajarkan oleh parav cendekiawan muslim mencakup berbagai bidang, termasuk tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi, hingga musik.

Beragam topik yang disajikan dengan berkualitas oleh para ilmuwan terkemuka akhirnya mampu menarik perhatian para pelajar dari berbagai belahan dunia.

Sejak itulah, aktivitas keilmuan di Masjid Al-Qarawiyyin berubah menjadi kegiatan keilmuan bertaraf perguruan tinggi. Pada tahun 859, berdirilah universitas alias jami’ah pertama Al-Qarawiyyin (Jami’ah Al-Qarawiyyin).

Guinness Book of World Records pada 1998 menempatkan Universitas Al-Qarawiyyin sebagai perguruan tinggi tertua dan pertama di dunia yang menawarkan gelar kesarjanaan.

Sebelum menjadi Paus Sylvester II, Gerbert of Aurillac sempat menimba ilmu di universitas ini. Ia mempelajari matematika dan kemudian memperkenalkan penggunaan nol dan angka Arab ke Eropa.

Bahkan, universitas ini secara tak langsung memicu proses Renaisans di peradaban Barat pada ke-15 M, melalui kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang ditransfer para ilmuwan Muslim yang belajar atau yang mengajar di universitas itu. Majalah Time edisi 24 Oktober 1960 menyebut obor Renaisans berasal dari Fez, Maroko.

4. Sultan Raziyya (1205-1240)

Ia adalah Sultan Delhi (India) yang berkuasa antara 1236 hingga 1240, dan menjadi Sultan wanita pertama yang memerintah di Kesultanan Delhi.

Di bawah kekuasaannya, ia mendirikan sekolah, akademi, pusat-pusat penelitian, hingga perpustakaan umum. Sultan Raziyya sangat populer antara lain karena pemikirannya bahwa semangat agama lebih penting daripada yang lain.

Raziyya selalu menolak disebut sebagai Sultana (ratu) karena itu berarti seorang “istri atau nyonya seorang sultan.” Merasa bahwa aprepriasi citra maskulin akan membantunya mempertahankan kerajaannya, Raziyya selalu berpakaian layaknya pria dan mengenakan sorban, celana, jaket, dan pedang.

5. Nana Asma’u (1793-1864)

Seorang putri, penyair, guru, sekaligus sufi, Nana adalah wanita muslim di Nigeria yang menguasai bahasa Arab, Fulfulde, Hausa, Tamacheq, Yunani, bahkan Latin klasik. Pada 1830, Nana membentuk sebuah kelompok guru perempuan yang ditugaskan berangkat ke seluruh wilayah untuk mendidik perempuan di daerah miskin dan pedesaan.

Lewat publikasi karya-karyanya, yang menekankan pendidikan perempuan, Nana telah menjadi inspirator bagi perempuan Afrika. Hari ini, di Nigeria Utara, organisasi wanita Islam , sekolah dan gedung pertemuan sering dinamai dengan namanya untuk sebuah penghormatan.

Di kalangan wanita muslim di Afrika Barat, Nana menjadi menjadi legenda berkat perjuangannya dalam memajukan pendidikan wanita, kegiatannya dalam persoalan-persoalan sosial, dan juga kecerdasan dan kesalehannya. Ia adalah putri dari Shehu Utsman Dan Fodiyo, pemimpin gerakan Sokoto Jihad di Afrika Barat. []

 

Sumber: mensobsession.com



Artikel Terkait :

About FERRY ARDIYANTO KURNIAWAN

Check Also

12 Inspirasi Desain Mushola Kecil di Rumah

Musala meskipun ukurannya minimalis, jika bersih dan nyaman, pasti akan membuat kita semakin khusyuk saat beribadah. Ingin menghadirkan musala di rumahmu meski hanya berukuran minimalis?

Tinggalkan Balasan