Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

[vc_row][vc_column offset=”vc_hidden-lg”][vc_btn title=”Populer” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-muslimah-populer%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterpopuler||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Terbaru” style=”3d” color=”danger” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fartikel-terbaru%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dterbaru|||”][vc_btn title=”Bertanya?” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fforums%2Ftopik%2Fbaca-sebelum-tanya-jawab-2%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Dbertanya||target:%20_blank|”][vc_btn title=”Join” style=”3d” color=”green” link=”url:https%3A%2F%2Fwww.ruangmuslimah.co%2Fregister%2F%3Futm_source%3Dpost%26utm_medium%3Dtombol%26utm_campaign%3Ddaftar|||”][/vc_column][/vc_row]

Benarkah Mencampurkan Garam Saat Proses Memasak Bahaya untuk Kesehatan?

0

Garam itu sudah hal yang lumrah dipakai untuk memasak, tidak lengkap rasanya jika memasak tanpa diberikan campuran garam, maskan akan terasa hambar dan tidak enak. Bahkan garam sudah menjadi bahan utama dalam memasak, hampir semua masakan memerlukan keberadaan garam.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik bumbu kalian adalah garam…” (HR. Baihaqi dan Ibnu Majah, sanad didhoifkan oleh Syeikh Albani)

Pernah mendengar atau mungkin membaca tulisan mengenai bahaya mencampurkan garam saat proses memasak apalagi saat sedang mendidih? Benarkah garam yang dimasukkan dengan cara ini akan berubah menjadi zat yang membahayakan kesehatan tubuh? Atau, benarkah kandungan yodiumnya akan menghilang?

Ada beberapa pihak yang menganjurkan untuk menambahkan garam ketika makanan sudah siap dihidangkan, bukannya ketika sedang dimasak. Karena dalam proses pemasakan, kadar yodium dalam garam bisa menghilang, bahkan ada yang menyebutkan kondisi panas atau mendidih bisa membuat senyawa garam berubah menjadi bersifat merusak kesehatan.

Mengenai hal ini, memang ada sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam artikel itu disebutkan kronologi bahwa telah dilakukan dua penelitian dengan metode yodometri dan wet digestion untuk mengukur kadar yodium pada masakan. Hasil dari kedua penelitian tersebut adalah :

“Berdasarkan temuan ini disimpulkan bahwa sebagian besar yodium hilang dalam pemasakkan, terutama bila dimasak dengan cabai dan apalagi bila ditambah cuka…”

Jika hal ini benar tentu saja cukup mengherankan, bukankah jadinya sia-sia saja jika ternyata yodium menghilang jika garam dimasukkan saat proses memasak? Karena kebanyakan masyarakat kita menambahkan bumbu maupun garam pada saat memasak, bukannya setelah makanannya siap terhidang. Proses yodisasi garam alias penambahan yodium ke dalam garam ini sendiri sudah dilakukan selama lebih dari 20 tahun dengan harapan agar dapat mencegah timbulnya Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

Nah, pada tahun 1999 dilakukanlah dua penelitian yang lebih presisi dengan metode radio isotop dan epidemiolgi oleh Puslitbang Gizi menggunakan bantuan dana dari UNICEF.
Ternyata hasil dari dua penelitian terbaru ini saling menunjang. Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa yodium masih ada di dalam masakan dan yodium yang masih ada dalam masakan dapat dicerna oleh tubuh, yang ditunjukkan dengan tingginya kadar yodium dalam urine. Ini menunjukkan bahwa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa yodium itu telah hilang dalam proses pemasakkan ternyata tidaklah akurat.

Mana yang sebaiknya kita lakukan? Menambahkan garam saat memasak atau saat makanan sudah siap tersaji? Lalu benarkah hadits yang menyatakan bahwa sebaiknya kita memakan sedikit garam di jari sebelum dan setelah makan?

”Jika kamu makan, mulailah dengan mencicipi garam dan akhiri dengan makan garam. Karena dalam garam terdapat obat bagi 70 penyakit, yang pertama lepra, gila, dan kusta…”

Ternyata hadits ini sanadnya gugur, karena penuh dengan perawi yang dinilai cacat. Oleh karena itu, kita memang perlu berhati-hati sekali dalam meneliti sebuah hadits yang akan kita amalkan. []

Sumber: kimianet.lipi.go.id, konsultasisyariah.



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline