Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Jangan Cuek dengan Keluarga Pasangan

0

Setelah menikah tentu keberadaan orangtua pun menjadi bertambah. Karena, orangtua suami akan menjadi orangtua Anda, pun sebaliknya. Bahkan keluarga Anda pun akan bertambah, Karena kelak keluarga suami Anda akan menjadi keluarga Anda juga.

Mendekati keluarga pasangan gampang-gampang susah, karena biasanya terganjal perbedaan kebiasaan. Namun, agar meraih keberkahan dan manfaat silaturahim, membina hubungan dengan keluarga besar pasangan penting dilakukan.

Rahmi Dahnan, S.Psi, M.Pd, Psikolog, psikolog dan trainer Yayasan Kita dan Buah Hati, berpendapat, sebagaimana kita mengenal keluarga sendiri, kita pun harus mengenal keluarga besar pasangan yang notabene menjadi keluarga kita juga, disebabkan ikatan pernikahan kita dan pasangan.“Mulai dari jumlah saudara yang dimiliki suami/istri kita, di mana mereka tinggal, berapa anak mereka, bagaimana kehidupan mereka, dan bagaimana komunikasi pasangan selama ini dengan saudara-saudaranya. Ketahui pula soal kesehatan mertua, hobi dan makanan kesukaannya, atau kebiasaan lainnya,” urai Rahmi. Hal-hal tersebut menjadi bekal untuk lebih jauh membangun hubungan dengan mereka.

Sebagai pendatang baru dalam kehidupan keluarga besar pasangan, sebaiknya kitalah yang terlebih dahulu berinisiatif untuk memulai menjalin relasi. Lakukan dengan merendahkan hati dan memberi kesan pertama yang baik. “Kunjungi kerabat atau orang yang dituakan dalam keluarga besar pasangan, dengan membawa buah tangan. Pada sebagian suku dan keluarga, membawa buah tangan untuk tuan rumah atau orangtua adalah sebuah kebaikan. Tak harus kue yang mahal, buah-buahan yang disukai juga sudah cukup. Yang terpenting adalah rasa hormat dan adab kita sebagai orang baru di lingkungan keluarga mereka,” ungkap Rahmi, seraya menambahkan, jangan malas membantu ke dapur atau menjaga keponakan saat kerabat atau saudara ipar sedang repot menjamu kita. Langkah selanjutnya, imbuh Rahmi, meminta nomor telepon atau alamat akun media sosial untuk memudahkan bersilaturahim di dunia maya nantinya.

Cari Solusi, Jangan Abai

Sudah jadi rahasia umum, hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuan kerap tidak mulus. Entah karena mertua melihat menantunya tidak seperti yang dia harapkan, kurang melayani suami, tidak paham dengan kebiasaan keluarga; atau menantu yang kurang bisa beradaptasi, merasa mertua terlalu mengintervensi rumah tangganya, dan selalu menggurui. Juga ada semacam persaingan di antara keduanya dalam merebut perhatian suami sekaligus anak lelaki ibu mertua itu. Belum lagi hubungan dengan kakak atau adik dari pasangan alias ipar, yang mungkin saja menemui permasalahan serupa.

Namun, jangan digeneralisasi. Tidak semua pasangan suami istri menemui persoalan ini. Ada yang hubungannya dengan keluarga besar pasangan baik-baik saja. Meski sesekali terjadi perbedaan pendapat, itu wajar saja. Jangan lantas mudah terbawa perasaan. Yang mesti dikedepankan adalah semangat untuk menerima, memaafkan, dan mencari solusi terbaik jika terjadi konflik. Rahmi menekankan, apabila muncul konflik, segera lakukan cek dan cek ulang; apa masalahnya dan apakah ada distorsi informasi. “Kalau ternyata disebabkan kurangnya komunikasi, salinglah memaaafkan. Mulai lagi ‘prosedur’ dari awal, saling berkunjung, saling telepon, dan lainnya.”

Jika konflik terjadi karena ada salah satu pihak yang zalim, menurut Rahmi, memaafkan adalah cara tepat agar dapat melanjutkan interaksi dan relasi. “Dibutuhkan kedewasaan dari masing-masing pihak dalam hal ini,” tukasnya.

Bila pasangan kita yang berkonflik dengan kakak atau adiknya, kita sebagai ipar tidak boleh berkolusi. Bersikap biasa saja, jangan terbawa emosi pasangan. “Yang bermasalah kan mereka, ipar tidak boleh ikut-ikutan. Tetap bersikap baik, tetap berkomunikasi,” saran Rahmi.

Nah, kalau konfliknya langsung dengan kita, ada baiknya kita cooling down, menarik diri dulu hingga perasaan tidak lagi panas. Setelah itu, minta maaf kalau kesalahan ada di pihak kita. Sebaliknya, bila pihak ipar atau mertua yang salah, langkah yang tepat adalah memaafkan. “Cobalah berempati, mungkin memang sifat bawaanya seperti itu, atau pihak lain itu sedang banyak masalah. Mana yang bisa dibantu, kita bantu. Kalau tidak bisa membantu, minimal kita tidak menambah masalah mereka. Sambil berdoa kepada Allah, semoga Ia memberi petunjuk dan hidayah kepada pihak lain tersebut,” papar ibu empat anak ini.

Lantas, dengan dalih menghindari konflik, salahkah jika kita mengabaikan keluarga besar pasangan? Rahmi mewanti-wanti untuk tidak melakukan hal ini, karena agama Islam sangat menganjurkan untuk menyambung silaturahim. Dengan memaafkan, kata lulusan Profesi Psikologi Universitas Indonesia ini, harusnya tetap ada kebaikan meskipun hubungan tak lagi sehangat sebelumnya. “Jika mengabaikan keluarganya, tentu akan menambah beban pikiran pasangan yang tertekan berada di tengah-tengah, selain membuat kita dianggap tidak baik atau dikucilkan keluarga besar. Bicarakan saja apa yang kita rasakan kepada pasangan. Pasangan yang bijaksana adalah yang membantu mencari solusi, bukan malah menambah runcing masalah,” pungkas Rahmi.

Untuk mengeratkan ikatan emosional dengan keluarga pasangan, berikut beberapa kiat dari Rahmi Dahnan, S.Psi, M.Pd, Psikolog yang bisa Anda terapkan;

1. Kenali pribadi tiap orang.

2. Berlaku baik kepada siapa pun; mertua, ipar dan pasangannya, keponakan. Rasa hormat kita akan dibalas rasa hormat pula oleh orang lain.

3. Jangan mencampuri urusan atau masalah orang lain atau keluarga pasangan. Jadilah orang yang bicara pada saat diperlukan pendapatnya atau saat dibutuhkan bantuannya. Hindari memberi komentar yang tidak baik kepada ipar, keponakan, atau tante-tante, dan anggota keluarga pasangan.

4. Saling memberi hadiah. Saat ada yang naik kelas, wisuda, melahirkan, hari raya, atau ketika momen kebahagiaan lainnya. Ucapan selamat sudah mewakili kebahagiaan kita atas prestasi kerabat yang sedang berbahagia. []

Loading...

Sumber: Ummi Online



Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline