Ruang Muslimah
Inspiring and Educating Muslim Woman

Untuk Kita Semua, Para Istri (1)

0

Oleh: Poppy Yuditya

Seorang pembelajar. Dia suka buku, diskusi,  menonton film dan berbagi ilmu & pengalaman. Dia mencintai perannya sebagai ibu rumah tangga, trainer, konsultan, penulis dan penuntut ilmu kehidupan. Poppy Yuditya Candralita Abidin, begitu nama lengkapnya, lahir tahun 1977 di Balikpapan, setelah lulus dari SMA 78 Jakarta meneruskan ke Jurusan Teknik Mesin/Industri  di FTUI.

Fragmen 1

Seorang laki-laki berjalan hilir mudik. Raut wajahnya gelisah luar biasa. Sebentar-sebentar terdengar helaan nafasnya. Menandakan kegundahan hatinya.

Teman sekantornya pun menghampiri kemudian bertanya, “Bapak kenapa?”

BACA JUGA: Hukum Seorang Istri Menyukai Lelaki Lain

Sang laki-laki yang gelisah pun menjawab, ”Saya baru dipanggil HRD, kontrak saya tidak diperpanjang. Akhir bulan ini, terakhir saya bekerja di kantor ini.” jawabnya lesu.

Teman sekantornya langsung berkomentar,”Ya Allah, pantas Bapak terlihat gelisah seperti itu.”

Sang laki-laki menjawab lagi, ”Sebenarnya saya bukan gelisah karena kontrak tidak diperpanjang. Saya yakin Allah Yang Maha Pemberi Rizqi.  Tapi, saya sedang bingung bagaimana menghadapi istri saya di rumah. Saya pasti akan ditanya-tanya kenapa, mengapa, bagaimana bisa, dan lain sebagainya yang bahkan saya sendiri tidak tahu jawabannya.” jelasnya.

Ia kembali menghela nafas sejenak kemudian berkata, “Belum lagi pertanyaan selanjutnya: terus kita makan apa bulan depan? Bayar cicilan pakai apa? Dan seterusnya. Membayangkan pertanyaannya saja saya sudah pusing. Sudah cukup rasanya pusing di kepala saya ini  karena kontrak diputuskan sepihak.  Tapi saya akan lebih pusing lagi kalau membayangkan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan istri saya. Sungguh, kepala saya rasanya mau pecah. Tidak sanggup saya pulang rasanya.”

Bisa jadi kita semua pernah mendengar atau membaca kisah ini. Kisah Nabi Ibrahim yang karena perintah Allah harus meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail di padang pasir tandus. Ketika itu untuk menjawab pertanyaan istrinya,

Nabi Ibrahim bahkan hanya menjawab dengan satu kata tanpa keterangan lainnya. Istrinya pun tidak menambahkan bebannya dengan rentetan pertanyaan lanjutan. Padahal sesuai “kebiasaan” perempuan yang haus keterangan, bayangkan bila kita di posisi Hajar. Apa yang kira-kira akan kita lakukan? []

Sumber: Islampos



Artikel Terkait :
Loading...
You might also like

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Maaf Ukhti Antum Offline